April 21, 2012 — Ada beberapa faktor yang mendasari saya untuk berpindah sistem komentar dari WordPress ke Disqus, antara lain lebih praktis dan reaktif. Mencoba Sistem Komentar Disqus diulas oleh rismaka pada April 21, 2012. Berikut ulasan selengkapnya.

Hari ini saya memutuskan untuk menggunakan sistem komentar dari Disqus. Selama saya ngeblog, baru kali ini saya mencoba sistem komentar dari pihak ketiga ini. Sebelumnya saya cukup berpuas diri dengan sistem komentar bawaan WordPress. Namun karena beberapa faktor, maka hari ini saya terpaksa menggantinya ke Disqus.
Alasan pindah ke Disaqus
Ada beberapa faktor yang mendasari saya untuk berpindah sistem komentar, antara lain:
-
Menghemat ruang penyimpanan (space) untuk database
Jatah ruang penyimpan hosting saya terbatas. Seiring dengan berkembangnya website-website saya yang lain, tentu saja membuat ruang penyimpanan menjadi semakin kecil. Oleh karena itu untuk menyiasatinya, kiranya saya perlu menggunakan sistem komentar dari disqus untuk menampung komentar yang semakin hari semakin bertambah banyak.
-
Menjaga halaman blog tetap cepat ketika dibuka
Dengan adanya komentar di blog WordPress, maka setiap kali halaman blog dibuka, ada tambahan query yang harus dieksekusi, sehingga menyebabkan kecepatan muat dari sisi server berkurang. Dengan adanya disqus, maka server kinerja server hosting tidak terlalu berat karena pengambilan komentar telah dilayani oleh server disqus.
Dari sisi klien pun terjadi peningkatan, karena halaman blog lebih cepat ditampilkan tanpa komentar bawaan dari WordPress. Komentar dari disqus akan ditampilkan setelah seluruh elemen halaman web telah terunduh, sehingga menjadikan halaman blog tersebut lebih cepat ditampilkan.
-
Praktis
Saat menggunakan komentar bawaan WordPress, ketika ada seorang yang berkomentar, maka saya harus membuka dashboard WordPress terlebih dahulu untuk membalas komentar tersebut. Membuka dashboard memang tidak harus melalui komputer, karena ada aplikasi WordPress untuk ponsel. Namun, bagi saya cara tersebut tidak praktis dan membuat saya semakin malas untuk membalas komentar yang masuk. PS: Saya memang seorang narablog yang malas.
Disqus memungkinkan saya untuk membalas komentar langsung melalui email. Setiap kali ada komentar masuk, maka email notifikasi pun terkirim ke ponsel Android saya. Dengan membalas (me-reply) email tersebut, maka email balasan saya langsung ditampilkan sebagai jawaban dari komentar di blog. Saya rasa hal tersebut cukup praktis bagi saya yang cukup mobile.
-
Lebih interaktif
Disqus menyediakan banyak fitur di sistem komentarnya, antara lain tombol like, tombol berbagi ke jejaring sosial, komentar berulir, dan fitur melampirkan gambar. Saya merasa dengan menggunakan disqus, alur diskusi dapat lebih interaktif lagi. Minimal bagi orang lain, karena jangan terlalu berharap saya interaktif di sini, karena saya memang narablog yang pemalas :)
Ke-empat faktor di atas mengawali saya untuk menggunakan sistem komentar dari disqus. Bila ada pertanyaan, mengapa tidak menggunakan sistem komentar yang lain, seperti intensdebate atau Livefyre?
Jawabannya adalah karena yang saya tahu hanya disqus. Saya malas mencoba yang lain, mungkin karena alasan malas saja.
Owh ya, saat migrasi komentar dari WordPress ke Disqus, ternyata komentar yang ada di blog ini tidak bisa diimport, sehingga terpaksa saya merelakan komentar-komentar tersebut untuk tidak ditampilkan lagi. Dengan ini saya meminta maaf sebesar-besarnya karena hampir semua komentar yang telah anda submit tidak dapat dimunculkan kembali.