July 14, 2010 — Emoticon, smiley sengaja tidak saya pasang di blog ini karena beberapa pertimbangan. pertimbangan tersebut antara lain kepada faktor kecepatan dan faktor lainnya.. Alasan Tidak Memasang Emoticon diposting oleh rismaka pada July 14, 2010. Berikut ulasan selengkapnya.
![]()
IMG Source: venturebeat.com
Mengapa tidak menggunakan emoticon di kolom komentar? Bukankah akan lebih menarik bila dipasangi emoticon yang lucu-lucu? Dan tentunya pengkomentar akan lebih menjiwai saat menulis komentar di blog ini.
Itulah sekilas pertanyaan-pertanyaan yang pernah muncul sebagai saran agar blog ini lebih menarik. Emoticon, smiley atau apapun namanya sengaja tidak saya pasang di blog ini karena beberapa pertimbangan. Saya tidak menyarankan siapapun untuk mengikuti saya, karena semuanya kembali ke selera dan pilihan masing-masing.
Pertimbangan tidak memasang plugin emoticon
-
Saya pengguna internet yang fakir bandwidth
Sebagai pemilik blog, saya adalah orang yang paling sering berkunjung ke blog sendiri. Dengan jatah bandwidth bulanan yang sangat sedikit dari sisi operator (IM2 broom) dan dari sisi server (10 GB/bulan), tentunya memasang emoticon akan memboroskan jatah bandwidth yang saya miliki.
Sudah cukup saya mengalami status 504 bandwidth limit exceeded di akhir bulan untuk blog super hemat ini. Saya tak ingin menjadikan status 504 tersebut terjadi di pertengahan bulan.
-
Emoticon menambah HTTP Request
Setiap emoticon yang ditampilkan di halaman, akan menambah 1 (satu) buah HTTP request. Kita tahu bahwa HTTP request adalah faktor utama penentu performa atau kecepatan muat halaman web. Seandainya saya memasang plugin emoticon, niscaya blog ini akan terbebani dengan puluhan http request yang tidak semuanya dibutuhkan, atau dengan kata lain sia-sia.
Sebagai contoh, kaskus emoticon sedikitnya mengandung 50 emoticon yang umum digunakan. Jika sebuah peramban modern mampu untuk mengunduh 8-10 item dalam sekali unduh per satu alamat domain, maka akan dibutuhkan 5-10 kali waktu unduh untuk menampilkan ke-50 emoticon tersebut. Itu hanya untuk emoticon. Bilamana item-item lainnya di halaman tersebut berjumlah banyak, maka proses unduh tentu akan memakan waktu yang lebih lama.
-
Emoticon membuat peramban berpikir lebih keras
Kebanyakan kode HTML emoticon yang ada di suatu halaman web belum memenuhi standar penulisan yang baik. Penulisan kode HTML yang baik dan benar untuk gambar adalah sebagai berikut:
<img src="sample.gif" alt="alternative text" width="100" height="100" />Sementara kebanyakan emoticon ditulis tanpa adanya atribut dimensi (
widthdanheight). Hal ini menyebabkan peramban berpikir lebih lama dalam menentukan lebar dan tinggi gambar tersebut. Akibatnya, kecepatan muat halaman pun menurun. -
Merusak validitas XHTML
Beberapa plugin emoticon menyisipkan tag atau atribut yang dapat merusak validitas halaman. Cara untuk tetap menjadikannya valid adalah dengan menyunting (mengedit) plugin emoticon, namun saya terlalu malas bila harus selalu menyunting jika ada update terbaru dari plugin tersebut.
-
TidakKurang aksesibelEmoticon yang tidak umum digunakan, kaskus emoticon misalnya, teks alternatif untuk masing-masing gambarnya menggunakan sebuah kata atau singkatan yang jarang orang tahu artinya, seperti
:mewek,:matabelo,:angel,:2thumbup, dan lain sebagianya.
Pada saat opsi gambar dimatikan, text alternatif ini kurang bisa dimengerti maksudnya oleh kebanyakan orang. Lain halnya dengan teks alternatif umum semisal
:),:D,;),8-). -
Merusak desain
Karena posisi emoticon yang menyatu dengan text (inline), keberadaan emoticon dengan ukuran besar dapat merusak desain paragraf teks.

-
Menimbulkan candu
Plugin emoticon dapat menimbulkan candu (kecanduan plugin). Baca kembali tulisan saya yang berjudul fenomena ketergantungan plugin.
Ketika plugin emoticon tersebut dinonaktifkan, maka teks-teks alternatif bawaan dari plugin tersebut akan tetap menyatu bersama dengan komentar yang terdahulu. Teks tersebut tidak akan membentuk sebuah gambar emoticon karena plugin telah dinonaktifkan. Hal itu tentu saja dapat merusak keterbacaan teks. Satu-satunya jalan agar gambar dapat muncul adalah dengan memasang plugin itu kembali. Inilah yang disebut dengan kecanduan plugin emoticon.
Tulisan di atas hanyalah alasan mengapa saya tidak memasang emoticon di blog ini. No offense, tidak ada maksud menyerang pengguna emoticon, tidak pula menjelek-jelekan pembuat plugin. Semuanya adalah opini dan hasil riset saya tentang dampak penggunaan emoticon di blog.
Pingback: Emoticons in Accessibility Perspective – Unessential Weblog
Pingback: Belajar dari Sahabat | blog Rudy Azhar