Biarkan Aku Memperingati Maulid Nabi

Submitted by rismaka on March 7, 2009 – 12:56 am34 Comments
This entry was writen by Rismaka, The Admin, Biochemist (sometimes) and Data Management Staff of PT. Ex-WF. [Contact: rismaka[at]rismaka.net]

“Biarkan aku memperingati Maulid.” Demikian kata Sa’id

Ia menambahkan, “Mengapa engkau tidak memperingati Maulid? Apakah engkau tidak mencintai Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam? Apakah engkau tidak mengakui keutamaan dan jasa-jasa beliau atas dirimu?”

Demikian sepenggal dialog yang terjadi antara Sa’id dan Shalih. Marilah kita ikuti sejak awalnya.

Shalih sedang berada di atas kereta api dari kotanya menuju ke Ibu Kota untuk melengkapi pengurusan syarat-syarat haji. Tak lama lagi kereta itu akan berangkat. Kegembiraan membayangi wajahnya. Sudah lama ia menyimpan kerinduan untuk berziarah ke tanah suci. Ia bermimpi dan membayangkan melihat ka’bah yang mulia dan berharap dapat mencium hajar aswad serta meminum dari mata air zamzam.

“Assalamu’alaikum… Assalamu’alaikum… Assalamu’alaikum… Assalamu’alaikum….” Shalih tersentak dari lamunannya dan sadar bahwa ada seseorang yang sedang menyapanya. Ternyata seorang tua yang berusia menjelang 50 tahun berdiri di sisinya dan minta izin untuk duduk di sampingnya.

“Wa ‘alaikumussalam warahmatullohi wa barokatuh.” jawab Sholih seraya melapangkan tempat duduk untuknya.

“Perkenalkan namaku Sa’id.” kata orang itu.

“Kemana engkau tadi melamun? Tiga kali aku mengucapkan salam kepadamu, tapi engkau tidak mendengarkannya.” kata Sa’id.

Dengan penuh rasa malu, Shalih menjawab, “Maaf, aku tadi berkhayal sedang berada di sisi ka’bah. Aku memang berniat untuk menunaikan haji tahun ini.”

“Masya Alloh engkau niat menunaikan haji? Semoga Alloh memudahkan urusanmu. Dan jangan lupa mendo’akanku di tempat-tempat yang mulia. Memang, setiap muslim pasti merasa rindu untuk berziarah ke tanah suci meskipun ia sudah pernah haji. Alhamdulillah, aku sudah berhaji tiga kali, umrah empat kali dan menziarahi Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dua kali.” kata Sa’’id.

“Tidak, aku memang berniat menziarahi makam Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam di Madinah. Aku masih ingat, ketika itu bulan Rabi’ul Awwal. Perjalananku ke makam penuh dengan nuansa kerinduan yang meluap-luap kepada beliau. Sesampainya di makam, aku membaca maulid Nabi. Sungguh ketika itu aku merasakan bahwa ruh beliau yang suci menyertai kami.” jawab Sa’id.

Shalih berkata, “Akan tetapi Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, ‘”Tidak boleh melakukan perjalanan jauh (untuk berziarah) kecuali pada tiga masjid: Masjid Haram, Masjidku ini dan Masjid Al Aqsha.” ini berarti Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam juga melarang umatnya bepergian jauh untuk tujuan ziarah kecuali ke tiga masjid tersebut. Kemudian, maulid yang tadi engkau sebutkan, hal itu tidak sesuai dengan sunnah.”

Sa’id membantah, “Bid’ah maksudmu?! Menampakkan kecintaan kami kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam adalah bid’ah?! Bukankah bergembira dengan hari kelahiran beliau termasuk bersyukur kepada Alloh atas nikmat-Nya yang terbesar bagi umat manusia?! Bukankah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam ketika datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyuraa’, lalu beliau bersabda, “Hari apa ini sehingga kalian berpuasa kepadanya?” Mereka menjawab, “Ini adalah hari diselamatkannya Musa dan kaumnya serta ditenggelamkannya Fir’aun dan kaumnya. Lalu Musa berpuasa pada hari ini sebagai syukurnya kepada Alloh, lalu kamipun berpuasa pada hari ini.” Beliau bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian.” Maka beliau pun berpuasa dan menyuruh sahabatnya berpuasa. Bukanlah kelahiran Nabi kita ini suatu nikmat yang lebih besar daripada diselamatkannya Musa beserta kaumnya?! Oleh karena itu, perayaan Maulid tersebut sebagai ungkapan syukur atas anugerah Alloh yang sangat besar itu.”

masjid

Pembicaraan mereka terputus sejenak karena kereta api akan diberangkatkan dan suara peluit sudah terdengar.

Shalih berkata, “Tentu saja diutusnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam adalah suatu nikmat yang besar dan rahmat bagi alam semesta.”

Sa’id berkata, “Tidak hanya diutusnya beliau, tetapi kelahiran beliau pun juga suatu nikmat. Dan aku bermaksud dengan merayakan maulid tersebut untuk mensyukuri Alloh atas nikmat-Nya yang agung itu. Dan apa yang aku lakukan itu sebenarnya sesuatu yang sangat sederhana dibandingkan dengan jasa-jasa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam yang sangat besar.”

Shalih menjawab, “Tentu saja setiap nikmat wajib disyukuri. Akan tetapi, nikmat yang terbesar untuk umat ini adalah diutusnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, bukan kelahiranya. Karena Al Qur’an tidak pernah menyinggung atau memberikan perhatian terhadap kelahiran beliau. Al Qur’an justru mengisyaratkan berulang kali bahwa nikmat Alloh dan anugerah-Nya yang besar adalah ketika diutusnya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Alloh berfirman:

Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri[QS. Ali Imran: 164]

Dan Alloh juga berfirman:

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rosul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah).” [QS. Al Jumu’ah: 2]

Demikian pula dengan nabi-nabi yang lain, peristiwa terpentingnya adalah ketika diutusnya para nabi tersebut. Seperti firman Alloh Subhanahu Wa Ta’ala:

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan” [QS. Al Baqarah: 213]

Seandainya memperingati hari besar tersebut boleh, tentu yang lebih pas adalah merayakan hari diutusnya Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, bukan hari kelahiran (maulid)-nya. Adapun tentang puasanya Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam pada hari ‘Asyura maka itu adalah syari’at dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, beliau hanya menyampaikan dari Robb-nya. Tidak boleh bagi kita untuk mengqiyaskan hari tersebut dengan hari kelahiran beliau. Karena kita hanya mengikuti tidak mendatangkan sesuatu yang baru.”

“Bid’ah dan tidak boleh?! Khurafat apaan ini? Apakah engkau hendak mengatakan bahwa kegembiraan kita dengan habibina Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam adalah bid’ah dan tidak boleh?! Biarkan aku merayakan maulid Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam.” tukas Sa’id.

“Aku tidak mengatakan itu. Bahkan mencintai beliau adalah wajib dan harus didahulukan daripada mencintai orang tua, anak dan diri sendiri. Tetapi bukti mencintai beliau adalah dengan mengikutinya bukan dengan mengadakan maulid. Lihatlah para sahabat beliau, bukankah mereka adalah kaum yang lebih baik daripada kita dan lebih mencintai beliau daripada kita?” Tanya Shalih.

“Itu benar, para sahabat dan tabi’in tidak pernah memperingati maulid beliau. Hal ini karena jarak mereka masih dekat dengan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam sehingga mereka tidak butuh merayakannya. Itulah sebabnya.” Tutur Sa’id.

“Wahai saudaraku, jauhnya jarak antara kita dengan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam tidak menjadi alasan bolehnya mengadakan suatu tambahan dalam agama Alloh Subhanahu Wa Ta’ala ini. Jika selama rentang waktu tiga kurun yang paling utama yaitu sahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in mereka semua tidak pernah merayakan maulid padahal mereka adalah kaum yang paling mencintai Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam lebih daripada generasi-generasi yang datang setelah mereka, maka kenapa kita tidak meniti jalan mereka?” tutur Shalih.

“Aku punya dalil lain. Ibnu Jazri berkata, “Ada seorang yang pernah bermimpi melihat Abu Lahab, ‘Bagaimana keadaanmu?’ Ia menjawab, ‘Aku di neraka, akan tetapi setiap malam Senin siksaku diringankan karena aku pernah bergembira pada saat kelahiran Rosul lalu aku membebaskan budak wanitaku, Tsuwaibah.’ Lihatlah, jika orang yang kafir saja mendapat manfaat dengan kegembiraannya terhadap kelahiran Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, maka bagaimana dengan seorang Muslim yang bergembira serta merayakan maulid beliau pada setiap tahun?!” tegas Sa’id.

Shalih menjawab, “Wahai saudaraku, dalil tersebut mengandung kelemahan. Pertama, orang yang bermimpi tersebut majhul (tidak diketahui orangnya). Kedua, yang memberi informasi tersebut adalah orang kafir (Abu Lahab). Bagaimana berita seorang kafir dapat dipercaya? Ketiga, sejak kapan sebuah mimpi bisa menjadi dalil untuk menetapkan suatu hukum syari’at?!”

“Wahai saudaraku, apakah engkau tidak menganggap maulid sebagai sunnah hasanah (sunnah yang baik)? Bukankah Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencontohkan dalam Islam suatu sunnah yang baik, maka baginya pahala sunnah tersebut dan pahala orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa mencontohkan dalam Islam sunnah yang buruk, maka baginya dosa perbuatan itu dan dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat?” tanya Sa’id.

Shalih menjawab, “Sunnah hasanah (sunnah yang baik) adalah sesuatu yang ada asalnya dalam syari’at. Misalnya sedekah (ia merupakan sebab diriwayatkannya hadits di atas). Diriwayatkan bahwa suatu kaum datang kepada Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dalam keadaan miskin dan sangat kekurangan. Lalu Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam menganjurkan para sahabatnya untuk bersedekah kepada mereka. Kemudian datanglah seorang laki-laki dengan membawa sekantong besar uang dirham (perak) yang sampai-sampai tangannya tak mampu lagi membawanya. Lalu orang-orang pada berlomba-lomba bersedekah kepada mereka karena meneladani laki-laki tersebut. Maka ketika itulah, Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda sebagaimana hadits di atas. Adapun merayakan maulid (hari kelahiran nabi) adalah suatu perbuatan baru yang tidak ada asalnya dalam syari’at. Ia diadakan jauh setelah berlalunya tiga kurun yang utama, yakni sahabat, tabi’in dan tabi’uttabi’in. Oleh karena itu, ia termasuk bid’ah. Dan setiap bid’ah itu sesat sebagaimana sabda Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam:

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama) karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.”

Sa’id berkata, “Perkataan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam, “Setiap bid’ah itu sesat.” tidaklah menunjukkan bahwa setiap bentuk bid’ah itu sesat. Karena kata kullu tidaklah mencakup semuanya. Bahkan diantara ulama ada yang membagi bid’ah itu menjadi dua:

Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) dan Bid’ah Sayyiah (bid’ah yang buruk). Di antara para ulama ada juga yang mengatakan bahwa bid’ah itu terbagi menjadi lima: bid’ah wajib, bid’ah yang mustahabbah (dianjurkan), bid’ah yang mubah (dibolehkan), bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram.

Shalih berkata, “Sesungguhnya hadits Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam tadi secara lahirnya menunjukkan bahwa semua bentuk bid’ah dalam agama itu sesat, tanpa terkecuali. Karena lafadz kullu memberi pengertian mencakup semuanya (istighroq). Yakni mencakup semua jenis-jenisnya. Terlebih lagi bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam mendahului ucapan tersebut dengan adaatut tahdzir (bentuk kata yang mengandung makna larangan):

“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam agama).”

Maka apakah mungkin setelah ini semua, beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bermaksud bahwa sebagian bid’ah saja yang sesat?

Adapun perkataan sebagian ulama yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah, atau yang membagi bid’ah menjadi lima, maka perkataan mereka itu bertentangan dengan perkataan Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam. Lalu apakah kita akan mengambil perkataan mereka dan meninggalkan perkataan Rosululloh? Aku yakin, tidak mungkin ada seorang Muslim yang mendahulukan perkataan manusia –siapapun dia- di atas perkataan al-Musththafa yang ma’shum.” jelas Shalih.

“Saudaraku, coba lihatlah kebun-kebun yang hijau nan indah di luar itu dan marilah kita sudahi diskusi kita.” ujar Sa’id yang berusaha mengalihkan tema pembicaraan.

Shalih tersenyum…. dan kemudian mengeluarkan secarik kertas dari tasnya lalu menulis sesuatu. Ia tampak serius namun santai. Sebelum turun dari kereta api, ia menyerahkan secarik kertas tersebut kepada Sa’id. Sa’id menerimanya dengan senang hati.

Setelah Shalih turun, Sa’id membuka amplop tersebut dan mulai membacanya. Surat itu berbunyi:

Untuk saudaraku yang tercinta, Sa’id.

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Aku sangat berterima kasih dan kagum dengan kebaikan akhlakmu. Perkenankanlah aku menanyakan kepadamu beberapa hal –semoga Alloh melapangkan dadamu untuk menerima kebenaran- :

  1. Kenapa Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam tidak pernah merayakan peringatan Maulid sepanjang hidupnya?
  2. Kenapa para sahabat beliau tidak pernah mengadakan peringatan maulid, demikian pula dengan para ulama yang datang setelah mereka? Apakah kita lebih mencintai Nabi daripada mereka?
  3. Jika engkau tidak merayakan maulid, apakah itu berarti kecintaanmu kepada Rosululloh tidak benar?
  4. Apakah engkau yakin bahwa Rosululloh senang jika umatnya menabuh rebana pada hari kelahiran beliau?
  5. Akhirnya engkau tidak tahu bahwa Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam wafat pada bulan yang sama dengan bulan kelahirannya? Jika engkau tahu itu, tentu bersedih pada bulan itu lebih tepat daripada bergembira. Akan tetapi Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam tidak memerintahkan kita untuk bergembira, tidak juga untuk bersedih. Maka kenapa kita tidak mengikuti beliau?

Akhirnya jika kelak engkau berdiri di hadapan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala pada hari kiamat, lalu Alloh bertanya kepadamu, “Kenapa engkau mengada-adakan peringatan maulid?” Lalu apa jawabmu? Apakah engkau akan menjawab, “Ya Alloh, aku dapati jama’ahku dan juga kaumku, mereka semua merayakan maulid, lalu akupun ikut merayakannya.” Atau apakah engkau menjawab, “Ya Alloh, aku lihat Syaikh Fulan dan Syaikh Fulan melakukannya, lalu akupun ikut melakukannya” Sementara engkau tidak punya dalil atau hujjah?

Padahal Alloh Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh?” [QS. Asy Syura: 21]

Tetapi sebaliknya, jika engkau tidak merayakan maulid, lalu Alloh menanyaimu pada hari kiamat, “Wahai hamba-Ku, kenapa engkau tidak merayakan maulid Nabi-Ku Muhammad?”

Maka dengan mudah engkau bisa menjawab, “Ya Alloh, Nabi dan Rosul-Mu tidak pernah memerintahkan kami untuk mengadakan peringatan maulid, tidak juga mencontohkannya. Demikian pula dengan sahabat Rosul-Mu, tidak ada satupun diantara mereka yang merayakannya. Maka aku tinggalkan peringatan maulid karena mengikuti Rosul-Mu yang mulia dan para sahabatnya yang setia.”

Saudaraku pikirkanlah! Mana di antara dua jawaban tersebut yang lebih kuat argumennya?

Semoga Alloh mengampunimu. Demi Alloh, aku kasihan kepadamu. Ini adalah nasihatku yang kutulis untukmu. Maka bertakwalah kepada Alloh dan siapkanlah jawaban untuk pertanyaan-Nya.

Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Sa’id membaca surat sahabatnya tersebut dengan cermat dan hati-hati. Kemudian ia merenungkan kembali isinya dengan kepala dingin. Ia dapati dirinya seolah-olah linglung tak berdaya. Ya, dengan apa ia akan menjawab pertanyaan Robb-nya jika kelak Dia menanyainya tentang perayaan maulid?

Ia telah terbiasa memperingati maulid sejak masa kecilnya. Akan tetapi, tentu saja itu bukan dalil untuk membenarkan perbuatan tersebut. “Akan tetapi,…aku bermaksud menampakkan kecintaanku kepada Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam dengan merayakan maulid itu.” gumam Sa’id.

“Namun kenapa Rosululloh Shollallohu ‘Alaih Wa Sallam tidak menganjurkan kita untuk merayakan maulid jika memang beliau suka maulidnya dirayakan? Dan juga, kenapa para sahabat beliau tidak merayakannya setelah beliau meninggal? Bukankah mereka lebih mencintai Rosululloh daripada kita?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut bergelut di benak Sa’id. Mengusik pikirannya dan membuat risau hatinya. Ia merasa seolah-olah bumi disekitarnya berputar. Ia duduk termenung di kursinya. Lama sekali….setelah itu setitik kecerahan mulai muncul pada wajahnya. Dadanya yang tadi terasa sempit kini sedikit lapang.

“Alangkah baiknya seandainya aku tidak melakukan suatu ritual keagamaan pun kecuali jika ada dalilnya yang jelas. Sehingga aku tidak ragu-ragu dalam melakukannya. Dan juga, jika kelak Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menanyaiku pada hari kiamat, maka aku akan dapat menjawabnya dengan mantap.” gumam Sa’id.

(Ditulis oleh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi dalam booklet “Da’nii Ahtafil bil Maulid”)

Judul Asli: Biarkan Aku Memperingati Maulid Nabi (Tinjauan Syari’at Atas Peringatan Maulid Nabi)
Sumber: http://waqqash.blogspot.com/2009/03/biarkan-aku-memperingati-maulid-nabi.html

Artikel yang berhubungan:

  1. DOWNLOAD EBOOK: SIFAT SHALAT NABI JILID 1
  2. Nabi dan Rasul, berbedakah?
  3. Ebook: Fiqih Dakwah Para Nabi
  4. PERLUKAH “SIMBOL” SALAFY?

Berlangganan Artikel

Dengan berlangganan, anda akan dikirim artikel terbaru blog ini secara lengkap. Masukkan alamat email anda, kemudian tekan tombol subscribe:

Jika tidak mendapatkan informasi yang diinginkan, anda bisa manfaatkan mode pencarian berikut ini:

34 Comments »

  • cipzto says:

    Perayaan maulid emang selalu jadi perdebatan

    cipzto’s last blog post..Membuka Usaha Kecil

  • Shofiyah says:

    Assalamu’alaykum
    Subhanalloh ketìnggian ilmu&akhlak salafusholih dalam jiddal.,
    Postingan yg sgt brmanfa’at
    Barakallahufik

  • nenyok says:

    Mungkin gw mesti setuju dengan gumaman Sa’id kali ya :)
    nenyok’s last blog post..Protected: Bye All…

  • herr says:

    dapat faedah dari kajian umum kemarin bersama syaikh ali salim bukatir -hafidzahullahu ta’ala, beliau menuturkan bahwa memperingati kelahiran itu suatu hal yang aneh, sebab waktu kelahiran tidak berulang dan hanya sekali seumur hidup. berbeda dengan malam lailatul qadar yang selalu berulang tiap di penghujung sepertiga malam terakhir di bulan ramadhan. coba pikirkan…

    herr’s last blog post..Mereka Berbakti Kepada Sang Ibu

  • abrari says:

    Momennya pas sekali…

    Bener juga kata mas herr.

    abrari’s last blog post..Maulid, Bentuk Cinta kepada Rasulullah?

  • “Alangkah baiknya seandainya aku tidak melakukan suatu ritual keagamaan pun kecuali jika ada dalilnya yang jelas. Sehingga aku tidak ragu-ragu dalam melakukannya. Dan juga, jika kelak Alloh Subhanahu Wa Ta’ala menanyaiku pada hari kiamat, maka aku akan dapat menjawabnya dengan mantap.” gumam Sa’id.

    penutup yang indah
    barakallahu fiik

    wassalamu ‘alaikum

    _______________________________________________________________________

    ingin mengenal diin-mu??
    kunjungi, http://www.diinulhaq.com

    riikiiy al-ghorontaliy’s last blog post..Video: Kembali Kepada Islam (Ustadz Abdulhakim bin Amir Abdat)

  • radesya says:

    Afwan kak, aku masih awam, dangkal sekali ilmuku, nggak tau mesti bilang apa…
    Sekarang jadi tambah ngerti, tapi masih bingung juga

  • Fitrah says:

    Saudaraku berkaca mata…sungguh tulisan yang bermanfaat.

    Barakallahu fiyka…

  • awisawisan says:

    assalaamu’alaykum wa rohmatullaahi wa barokaatuh,
    pak karismaka

    uda,
    itu aja…
    :D
    awisawisan’s last blog post..Ujian dan Bunuh Diri… Kemudian al Qur’an Menjawab…

  • Ibnu Hajar Asqolani : Segala sesuatu yang baru adalah Bid’ah, Jika sesuai dengan Syariat maka tidak dapat dihukumi Bid’ah walaupun secara bahasa adalah bid’ah bila tidak sesuai dengan Syariat maka itu adalah Bid’ah dan itu yang terlarang!

    Dari sini jelas bahwa batasan Bid’ah tidaknya suatu perkara adalah bukan baru atau tidak tapi sesuai atau tidak dengan Syariat lalu apa yang tidak sesuai dengan Syariat dengan perayaan maulid?

    • rismaka says:

      Syari’at adalah apa-apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan diamalkan oleh para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum. Sehingga telah jelas dan nyata bahwasanya perayaan maulid nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah merupakan suatu syari’at baru yang diada-adakan dan tidak pernah dicontohkan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Bahkan Para imam yang empat pun tidak pernah sekalipun merayakannya.

      Allah Subahanhu Wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. [Al-Hujuraat: 1]

      Sesungguhnya orang yang merayakan maulid nabi berarti ia telah mendahului Allah dan RasulNya, karena Allah dan RasulNya tidaklah pernah untuk mensyariatkan peringatan maulid. Allahu a’lam.

  • Cak Win says:

    Manteb sob, :D

    Allah.SWA menyebut Nabi. Muhammad dengan Rosul atau nama Mulia lainya, tidak Mad atau Muh saja. Masak kita sebagai umatnya mau memuliakan Nabi kita gak boleh :D

    Orang-Orang yang mengatakan Maulid Nabi bid’ah sebaiknya lebih dalam mempelajari hadist :D
    Cak Win’s last blog post..Bocah Enam Tahun dinikahkan dengan Anak Empat Tahun

  • balladona says:

    Terima kasih sudah mampir ke blog saya !!!
    Maulid Nabi Muhammad ya? Ehm, memperingatinya memang perlu banget khan beliau suri tauladan kita !!!!
    Sekolah saya juga mengadakan acara maulid Nabi lho…
    sma11sby.com :lol: :lol: :wink: :wink:

  • Narmadi says:

    Hmmm….dalam perdebatan ya antara memperingati atau tidak meperingati

    Narmadi’s last blog post..Withdraw Paypal ke Bank Niaga

  • alhumairoh says:

    assaLamuaLaykum pak Rismaka, Long Time no see.

    subhanaLLah..
    sungguh tuLisan yang berani dan menggugah hati..
    ^_^

    alhumairoh’s last blog post..Aku Rindu.. tapi ku tak mau Rapuh….

  • …..Lau Kaana Khairan Lasabakuunaa Ilahi……

    mahabbahtedja’s last blog post..Maaf, Kisah Cinta ini bukan untuk Saudari…

  • Uchan says:

    Kalo seperti itu, Islam kaku bener yah. Dah sukses dibikin stereotip teroris ama orang2 barat, sekarang malah orang Islamnya sendiri yang bikin orang2 lain meng-amini itu.

    Duh maaf, otak saya bener2 nakal.

    Uchan’s last blog post..Cuti 10 Hari

    • rismaka says:

      Justru saya yang tidak mengerti maksud perkataan anda. Cobalah untuk selalu memberikan argumen jika mengemukakan pendapat. Ingatlah, bahwa segala sesuatu ucapan dan perbuatan akan dimintai pertanggungjawabnnya kelak, karena secara tidak langsung anda telah mengecap bahwa para imam yang empat (imam abu hanifah, malik, syafi’i, dan ahmad) turut mengamini orang2 barat yg menyebut islam adalah teroris.

      Bingung??? Wajar lah kalau anda bingung, karena anda sendiri mengakui kalau otak anda benar2 nakal.

      • fauzy says:

        Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu,
        Ref. Al-Baqarah ayat 2
        Mari kita semua kembali merujuk kepada Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kita. Semua urusan bisa diselesaikan dengan Al-Qur’an, asalkan kita mau mempelajari + memahami + mengamalkan & men-syiar-kannya. Banyak diantara kita berpegang kepada kebenaran masing-masing yang rujukannya dari pendapat-pendapat orang lain. Ada memang yang merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits namun dengan persepsi masing-masing, sehingga yang muncul malah pertentangan bahkan kekerasan. Kebanyakan umat menjalankan Islam hanya sebatas syari’ah rituil, padahal itu barulah pintu gerbang. Masuklah kedalamnya, carilah kebenaran didalamnya, lalu pahami makna yang sebenarnya, insya Allah anda akan menemui kebenaran-Nya. Bacalah kembali Al-Qur’an, niscaya banyak hal-hal yang bakal mencengangkan anda, padahal Al-Qur’an sudah diturunkan lebih dari 15 abad yang lalu, hanya saja, mungkin, kita terlalu terlena dengan persepsi kita sendiri tentang Islam dan pendapat-pendapat orang lain (“ulama”) yang telah berkembang sejak setelah wafatnya Nabi s.a.w.
        Billahittaufiq walhidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu…

      • Uchan says:

        Maaf saya belum sempat kehilangan jejak ke blog ini, dan baru bisa mencoba menanggapi sekarang.

        Lho paradoks nih. Alquran yang kita baca sehari2 tu bukannya bidah (kalau konsekuen merujuk istilah anda biar mengada2 sedikitpun dalam agama tetap tidak boleh)? karena
        - tidak ada alquran versi cetak di zaman nabi
        - tidak ada proses penjualan alquran cetak itu
        - Gimana sama alquran yg ditaro di kantong?

        Terus tanggalan hijriah buatan Umar gimana (kalau konsekuen merujuk istilah anda biar mengada2 sedikitpun dalam agama tetap tidak boleh)?

        Beraninya Anda menyebut 4 Imam, ketika berbicara soal Bidah (kalau konsekuen merujuk istilah anda biar mengada2 sedikitpun dalam agama tetap tidak boleh). Islam itu cuma dua pedomannya, Alquran dan Hadist.

        Siapa yang bingung? Saya justru melihat urgensi merayakan maulid di zaman sekarang sangatlah perlu (hampir semua orang melupakan beliau dan bahkah orang2 kafir leluasa menistakan beliau).

        Mengada2 yang mengarah kepada kemusyrikan yg jelas dilarang, dan kalau benar Islam yang fleksibel dan itu harus seperti tulisan ini, sudah pasti Islam gak bakal tersebar di tanah jawa melalui budaya wayangnya versi Sunan Kalijaga.

        Uchan’s last blog post..How Are You

        • rismaka says:

          Bismillah,

          Yth saudara uchan, tampaknya anda memang belum memahami pesan yang terkandung dalam postingan tersebut. Saya tidak tahu apakah anda membacanya secara cepat (karena sedang blogwalking) ataukah memang pesan dan maknanya tidak tertulis dengan jelas, atau mungkin anda yang berusaha untuk menolak kebenaran tersebut? Allahu a’lam.

          Di artikel tersebut tertuang suatu pesan bahwa cukuplah apa-apa yang rasul dan khulafaur rasyidin lakukan sebagai contoh kita dalam beragama. Saya tegaskan lagi DALAM BERAGAMA. Merayakan maulid nabi jelas itu sebagai ritual keagamaan, karena diakui atau tidak, org yg merayakan maulid tsb pasti akan mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

          Bid’ah dalam arti bahasa adalah mengada-adakan sesuatu yang baru, apapun itu baik itu dalam agama, maupun keduniaan. Contohnya zaman dahulu belum ada pesawat, mobil, lampu, dsb. Nah benda2 tsb memang berarti bid’ah SECARA BAHASA. Adapun bid’ah yang dimaksud di kalangan para ulama adalah sesuatu yang baru yang diada-adakan DALAM BERAGAMA. Dan inilah yang HARAM, karena rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

          Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat“. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi; hadits hasan shahih].

          Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak“. [HR. Muslim]

          Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR. Ahmad, Abu Daud At Tirmidzi; Hadits Shahih]

          Adapun pembukuan Al Qur’an itu bukanlah bid’ah, karena apa?

          1. Allah Subhanahu Wa Ta’ala lah yang telah memerintahkan. Al Qur’an mempunyai nama lain: Al Kitab, yang artinya mengumpulkan, jadi Pembukuan Al Qur’an adalah bukan bid’ah, karena telah disyariatkan.

          2. Pembukuan Al Qur’an merupakan sunnah Khulafaur rasyidin, sedangkan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “…maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk…. Itu artinya sunnah khulafaur rasyidin telah diperintahkan oleh rasulullah untuk kita taati. Jadi itu bukan bid’ah

          3. Ijma (Kesepakatan sahabat). Para ulama baik dulu maupun sekarang pun mengakui bahwa ijma (kesepakatan) sahabat adalah SALAH SATU HUKUM ISLAM yang wajib ditaati.

          Mengenai penjualan Al Qur’an, bentuk Al Qur’an, atau tanggalan hijriah, itu merupakan perkara duniawi dan tidaklah berhubungan dengan pelarangan ini.

          Mengenai 4 imam, saya ingin bertanya kepada anda dulu, adakah SATU SAJA dari keempat imam tersebut YANG MENGHALALKAN MAULID NABI?

          Anda katakan bahwa merayakan maulid nabi itu penting di zaman sekarang? Saya malah heran, bagaimana bisa kita mengingat rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam HANYA SETAHUN SEKALI? Di mana logika sehatnya? Saya justru semakin bingung dengan logika orang-orang yang mengatakan maulid nabi itu boleh, maulid nabi itu wajib, bahkan urgent… Orang-orang ini berdalih dengan cinta Rasul, lancang sekali mereka. Allah dan rasulNya tidak pernah memerintahkan kita untuk merayakan maulid nabi, lantas kenapa orang-orang tsb menganggap bahwa dirinyalah orang yang paling mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang mengagungkan beliau, barangsiapa yang tidak berbuat sama seperti mereka maka dia adalah orang yang membenci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau menuduhnya dengan sebutan-sebutan jelek lainnya yang biasa mereka pergunakan terhadap orang yang menolak bid’ah mereka.

          Aneh, bahwa orang-orang semacam ini mengatakan: “Kamilah yang mengagungkan Allah dan Rasul-Nya”. Padahal dengan bid’ah yang mereka perbuat itu, mereka sebenarnya telah bertindak lancang terhadap Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta’ala telah berfirman.

          “Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui“. [Al-Hujuraat: 1]

          Maaf kalau penjabaran saya kurang lengkap, namun semoga sedikit mencerahkan bagi siapapun yang turut serta membaca tulisan saya ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan Taufik dan HidayahNya pada kita semua.

  • wahyu says:

    bismillah,

    masya Allah, baiknya tulisan ini lengkap, dan detail

    barakalahufiik,
    salam kenal

  • supriman says:

    Wah bagus tulisanny.. Boleh di Co-Pas gak ^_^ ?

    supriman’s last blog post..DUKUN PONARI DAN FENOMENA BATU PETIR

  • supriman says:

    Leadingnya dikira pro Maulid.. ternyata.. hmmmm

    supriman’s last blog post..DUKUN PONARI DAN FENOMENA BATU PETIR

  • [...] Iklan 1 ==> Ada cerita menarik mengenai Perayaan Maulid Nabi, yang bisa dibaca di artikel ini [...]

  • terima kasih atas postingannya ya,..
    kalo saran saya kalian semua benar,tapi yang lebih benar lagi kita harus banyak belajar dan mencari tahu kebenarannya,..amien
    semoga kita tidak berpecah belah.

  • Andi says:

    Duh, kenapa seh harus berpecah belah ?, bukan kah masih ada yang lebih penting, soal Ahmadiyah, pemurtadan dll… Kalo orang di luar islam baca hal ini, mereka pasti tertawa…. Tolong, jangan saling mementingkan egonya…

    • rismaka says:

      Yang memecah belah adalah kaum muslimin itu sendiri. Oleh karena itulah pentingnya untuk bersatu di satu manhaj (jalan), yakni jalannya rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya, bukan dengan jalan membuat peribadatan baru yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh mereka. Allahu a’lam

  • asalamu alaikum, Wr

    kita harus memandang segala sesuatu dengan jernih dan juga jangan fanatik terhadap pendapat seseorang, dalam masalah furuiyah kita jangan terlalu mudah memvonis, karena hal itu sesuatu yang dapat diperdebatkan, jangan pula asal menolak karena berebeda keyakinan dengan pendapat guru kita, dahulu ane berfikir bahwa tidak ada kirim-kiriman pahala, terawih yang benar 8 rakaat yang lain bidah tapi setelah ane telaah dengan pendapat salafusaleh ternya mereka juga khillaf padahal zaman mereka dekat dengan kenabian apalgi zaman kita yang jauh banget , kita juga jangan sembarangan beribdah tanpa hujjah yang jelas juga jangan gampang membidahkan amalan sesorang tanpa menimbang hujjag mereka

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.