Tuluslah Dalam Menulis
Berangkat dari ketulusan menulis, itulah yang disebutkan oleh blogger ternama indonesia, mas Fatih Syuhud (fatihsyuhud.com) di salah satu tulisannya. Barangkali hal tersebut yang menyebabkan seseorang layaknya mas Fatih bisa terus eksis berkarya dalam menulis artikel-artikel yang bermanfaat. Saya sendiri banyak belajar dari karya-karyanya. Mungkin slogan “Tuluslah dalam menulis” sangat penting untuk dibudayakan, karena itu merupakan salah satu faktor seorang blogger bisa menjadi profesional.
Ada banyak blogger yang dalam merintis “usahanya” tidak diimbangi dengan ketulusan menulis, yang akhirnya hal tersebut dapat mematikan kreativitasnya sendiri. Apa saja ketidaktulusan tersebut? Mungkin banyak faktor subyektif yang bisa kita sebutkan. Tinjauan pribadi saya mengatakan, bahwa mereka menulis hanya karena ingin dianggap beken, ataupun menulis karena tujuan utamanya karena ingin cepat terkenal, ataupun juga mengambil tanpa izin hakcipta penulis dengan mencopy-paste yang tanpa disertai nama penulis maupun sumber tulisan itu sendiri.
Budaya copy-paste sepertinya sudah melekat erat di benak sebagian orang indonesia. Kita lihatlah sendiri, banyak para blogger yang melakukan copy-paste hasil karya orang lain (tanpa menyebutkan sumber). Jika bisa direnungkan, apakah tujuan mereka dalam melakukan hal yang tidak terpuji tersebut? Bisa jadi, dan kemungkinan besar mereka hendak memamerkan karya (tulisan) tersebut dengan mengakuinya sebagai karya sendiri, sehingga ia berharap menjadi beken dan terkenal dengan tulisannya itu.
Kemudian kita lihat anak-anak kuliah yang mencontek teman sebelahnya. Hampir bisa dipastikan contekannya sama dengan tulisan orang yang dicontek. Tak sedikit pula para mahasiswa yang dibebankan tugas laporan padanya. Mereka acap kali melakukan copy-paste “master laporan” milik kakak kelasnya. Itulah fakta kelam yang tidak bisa kita ingkari.
Beranjak dari permasalahan itulah selayaknya kita menginterospeksi diri kita, sudahkah kita tulus dalam menulis?
“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya“
[HR. Bukhari dan Muslim]
Artikel yang berhubungan:
Berlangganan Artikel
Dengan berlangganan, anda akan dikirim artikel terbaru blog ini secara lengkap. Masukkan alamat email anda, kemudian tekan tombol subscribe:




setuju akh
herr’s last blog post..Jembatan Sardjito II Yogyakarta
Salam
“sudahkah kita tulus dalam menulis?” hmm..ketulusan itu hanya aku dan Tuhan yang tahu *halah…
Btw bagaimana dengan anda sendiri?
imbisil ya mba…?
fiufiufiu….
bayu200687’s last blog post..Setelah diamku
saya sulit menerjemahkan ketulusan dalam aktifitas menulis;
tapi itu bisa dijadikan pedoman; bahwa menulis apapun sebaiknya;
dalam keadaan sehat wal afiat; tidak dalam tekanan; pikiran sedang fresh, dan memiliki referensi yang cukup.
salam kenal…
munawar am’s last blog post..Bukan Google, Tapi Global Translator, Mau…??
[...] beberapa yang ingin saya tekankan kepada peserta kontes ini, bahwasanya tuluslah anda dalam menulis. Menulis adalah pekerjaan yang sangat mudah, bahkan dapat dilakukan oleh anak SD sekalipun. Namun [...]
kalau saya pribadi, budaya copy paste tanpa mencantumkan pengarang atau sumbernya adalah “pencuri” sebuah karya..
memang negara kita kurang kuat dalam masalah hukum dalam dunia IT (internet), tetapi ini merupakan kesadaran diri kita masing masing…
Iya juga siy mas. Sangat susah untuk melindungi hak cipta, khususnya di dalam dunia IT.
Mungkin sebaiknya pakai pepatah lama saja, “jika tak mau konten blog kita dicuri, ya jangan ngeblog”
Trims ya mas atas tanggapannya.