Sepenggal Kisah Masa Lalu: (AUREA)
Friday, 16 September 2005, 8:53:42 PM
Aurea
Kutinggalkan sejenak resah gelisah yang membelit urat hati ini. Kegelisahan nan membawaku mengitari bayang-bayang ketidakpastian dalam taman-taman kehidupan. Kuberi apa yang sebenarnya aku menolaknya, yang terus menerus menggerogoti saluran kehidupanku. Dalam tiap pucuk bara yang kadang menyiramkan bekunya jiwaku laksana peredam yang menahan arteri dalam raga ini. Kuhembuskan, kulepaskan semua sesak yang menghimpit relung dadaku, rasa yang menggerogoti tiap-tiap inci ragaku menjadi serpihan yang tak berarti.
Cintaku tlah pergi meninggalkan segala kenangan yang tak pernah kurasakan. Dia tlah pergi jauh, jauh yang sepertinya tak akan pernah kugapai walau dalam mimpi. Cinta putihnya yang terlambat menyiram kuntum-kuntum bunga hatiku, meninggalkan tetes-tetes air mata kepedihan.
Dia menorehkan senyum tawanya dalam ingatanku. Senyum yang terasa menyejukkan tiap hati insan yang menatapnya. Tawa di tiap keceriaan parasnya, yang memaksaku terhanyut dalam kebahagiaan yang dibawanya serta. Hangat terasa menembus kerasnya dinding gendang telingaku, kata-kata yang terucap oleh mungilnya bibir, menyadarkan, mengantarkan jiwa memasuki taman cintanya, membawa serta setengah jiwa ini dalam kebajikan, keindahan, dan keanggunan kasih cintanya.
Dia yang tlah meninggalkanku kini. Aku yang sendiri dalam kesunyian sepi hati. Kusesali dia yang baru berarti saat ini. Pergi, meninggalkan jejak kenangan dan bayangan yang selalu hadir dalam mimpi. Kemanakah jiwa ini saat itu? Kemanakah hati ini tertuju? Dimanakah separuh cintaku berlabuh? Kusesali dia yang kulupakan, bersama kepedihan dan kosongnya harapan. Kusesali tidurnya jiwaku yang memaksaku tak lagi meneduhkan hatinya, tak lagi menyiram kuncup-kuncup kasihnya, dan tlah mengeringkan telaga cintanya.
Dialah Aurea, sosok indah pertama yang melantunkan lagu-lagu cinta yang membasuh jiwaku, yang mendendangkan sajak-sajak kehidupan, mengisikan kasih cintanya dalam periuk hatiku. Aurea, tanpa kurasakan hangat dekapan yang membelai mesra ragaku dengan lentik jemarimu. Tanpa adanya kisah kasih sepasang manusia yang selalu tertulis dalam roman-roman picisan karya para pujangga. Namun hanya untukmulah hati ini. Hati yang penuh penyesalan akan sebuah cinta yang tiada. Menunggu setia dalam penantian layaknya menanti sang mentari muncul di ufuk barat.
Hati yang bijaksana, bilamanakah engkau akan mengayunkan langkahmu menjemput dirinya? Menjemput setitik cinta dalam luasnya samudera? Dimanakah akan kau gali remahan-remahan cinta yang akan kau satukan kembali? Hati yang terluka, kemanakah kau mengadu akan setiap tangis sendumu? Tangis yang kau lantunkan atas sebuah penyesalan dan penantian yang sia-sia? Kini kulihat pancaran yang mulai meredup darri sinar yang tlah menghangatkan batinku selama ini, pelan tapi pasti.
Aku berpikir tak akan lagi bertemu cintanya yang mengalir menyejukkan hati gundahku akan kerinduanku padanya. Kasih cintanya menguap meninggalkan kerak-kerak luka dalam relung hatiku. Hanya penantian semuku akan kedatangan cintanya memaksaku tuk hanyut terombang-ambing antara masa depan dan masa lalu. Aurea, waktu telah menerbangakan aku kembali ke masa itu. Masa dimana wajahmu memandangku teduh penuh kadamaian. Pancaran kasih yang kau tebarkan dalam tiap savanna persinggahan hatiku. Begitu hangatnya, begitu indahnya masa itu.
Sejenak kualihkan pikiranku yang bergemuruh mengarungi masa itu, kuayunkan langkahku meniti padang sahara berharap angin tak akan menggoyahkan tumpuanku menapak pasir panas kehidupan. Kumencari dan terus mencari telaga jernih sebagai pelenyap rasa dahagaku akan kedewasaan. Sesekali kutemukan setetes embun di pucuk rerumputan yang tumbuh merana di tempat itu. Kureguk serta kuhisap walau pikirku tak cukup menuntaskan rasa hausku. Ku hanya berpikir kembali saat itu bahwa apa yang kujalani saat ini hanyalah perjuangan belaka. Perjuangan hidup yang harus dilalui seorang manusia lemah tak berdaya di tengah panasnya padang sahara. Dingin dan panas yang dapat menghempaskanku kapan dan dimanapun ragaku berada.
Sementara langit dengan pongahnya meneriakkan suara-suara arogansi melihat ketidakberdayaan bumi tempatku berpijak. Bumi tempatku bergantung tuk dapat melanjutkan perjalanan panjang menuju fitrahku. Ingin kukepakkan sayap-sayap lemahku menuju mahligai kebebasan nan kekal. Oh Adi.., apakah ini hanya mimpi? Apakah unsur di dunia ini hanyalah impian dan harapan belaka? Jikalau ini benar adi, ingin sekali ku tumbuh dewasa tuk dapat kembangkan sayap-sayap kecilku. Pergi meninggalkan segala kecongkakan yang selalu mengiringi langkahku.
Kukembali dalam angan keraguan akan kedatangan aurea. Sangat indah, sangat nyata khayalan menemani sepi dalam kesunyian hidupku. Entah berapa lama lagi ku kan temukan aurea yang tlah pergi. Terkadang dia nyata mencoba menemaniku dalam kebisuanku, mencoba tuk menyelami dalamnya hati ini. Tapi dia memang tlah pergi, jauh meninggalkanku seorang diri. Aurea adalah nyata diantara harapan dan ketakpastian yang selalu menghantui setiap lamunan akan kehadiran jiwanya dalam hati ini.
Masih terdengar lepas tawamu, membasuh kesedihan yang sering kurasakan. Tawa candamu nan selalu menyegarkan jiwaku yang merana menantimu. Seperti setitik embun dalam panasnya sahara senyummu menyiramkan kesegaran bagi panasnya hatiku. Akankah terus kunanti kedatangan aurea hatiku? Aurea kecilku nan selalu di hati, kan kunanti kasih cintamu sampai maut menjemput jiwaku…
Hueeeksss…..
:shock: wow, sejak kapan jadi pujangga cinta akh?
herr’s last blog post..Donasi Pembangunan Masjid Baiturrahman Purworejo
Salam
Ah kenangan!!!
Tumben lu menya menye gitu tapi keren euy susunan kalimat-kalimatnya :)
* ikutan Hueekksss juga
wow…keren euy….kata-katanya dalam banget.tapi…..saya ngga’ paham tuh maksudnya(sambil garuk-garuk kepala):-P:-P:-P
salim’s last blog post..Kisah seorang perokok(bag 2)
Pujangga kek nya hehehe..
tukang nggame ikut dukung kampanye damai pemilu indonesia 2009 , Dukung saya Ya pasang linknya di sidebar!!