PERLUKAH “SIMBOL” SALAFY?
Saya salafy insya Allah. Perkataan ini yakni “saya salafy” mempunyai makna bahwa saya mengikuti jalannya orang-orang yang terdahulu dari kaum muhajirin dan anshar yang muslim, yakni jalannya rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabatnya ridwanullah ‘alaihim ‘ajma’in.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [QS At-Taubah: 100].
Jika saya berkata: “Ana (saya) salafy”, bukan berarti anda bukan salafy. Seperti halnya saya berkata: “Saya muslim”, bukan berarti anda bukan muslim. Karena hakikat seseorang disebut salafy atau bukan salafy, itu dilihat dari manhajnya (cara beragama seseorang), bukan dilihat dari pengakuannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan WAJIB untuk menerima hal tersebut menurut kesepakatan, karena tidaklah madzhab salaf itu kecuali benar” [Majmu' Fatawa 4/149].
Banyak kita lihat sekarang ini orang ataupun pesantren yang mengatasnamakan kata “salaf” atau “salafy” atau “salafiyyah”, namun pada hakikatnya manhaj mereka sangatlah meleceng dari sunnah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Akidah mereka sesat, mereka banyak melakukan bid’ah, banyak yang masih percaya khurofat dan tahayul. Ada pula yang mengaku salafy namun mempunyai pemikiran khawarij, yakni gampang mengkafirkan kaum muslimin. Diantara mereka yang menamakan salafy juga ada yang bertujuan menyerang manhaj ini. Berawal dari kebencian mereka kepada manhaj yang haq ini, mereka membuat blog dengan embel-embel salafy di belakangnya, namun isinya justru menyerang orang-orang yang berpegang teguh pada sunnah rasulullah dan para sahabatnya.

Di sini saya tak akan membahas kelompok-kelompok atau individu yang “merusak” tersebut, namun justru saya ingin membicarakan (katakanlah mengkritik) individu-individu dari salafiyyin sendiri (termasuk saya) yang benar-benar menisbatkan diri mereka pada manhaj salaf yang sebenarnya. Mungkin akan ada pertanyaan “bukankah banyak kelompok-kelompok lain yang menyimpang yang lebih pantas untuk dikritik?”. Tak pelak lagi memang banyak kelompok-kelompok atau individu-individu yang butuh untuk diluruskan manhaj mereka, namun sebelum kita mengurusi atau mendakwahi orang lain alangkah baiknya (bahkan wajib) bagi kita untuk berdakwah kepada diri sendiri dahulu.
Membincang penisbatan kepada salafy, ada hal menarik yang patut diperhatikan. Bahwasanya mereka yang menisbatkan diri kepada salafy acap kali (beberapa dari mereka) memakai simbol-simbol tertentu dalam kesehariannya. Perlu diketahui bahwa simbol-simbol yang dimaksud bukanlah simbol-simbol dalam agama seperti halnya jenggot, cadar, nama kunyah, atau celana yang gantung , namun lebih kepada suatu bentuk “merk”, entah itu stiker, logo, atau apapun yang bertuliskan/ berjudul “salaf/salafy”.
Itulah realitanya. Banyak simbol-simbol tersebut bermunculan di sekitar kita. Kita lihat di mobil atau motor, mereka menempelkan stiker bertuliskan “salafy”. Di internet kita melihat adanya mesin pencari khusus yang bernama “****salaf“. Di internet kita melihat orang-orang mengirim email yang beralamat di domain@*****salaf. Di dunia per-blog-an pun ramai-ramai orang memasang banner “salafy“. Semoga saja tidak ada perkumpulan orang yang mendirikan perumahan yang bertuliskan “perumahan salafy“.
Saya tidak menyalahkan orang-orang tersebut, tidak pula mempermasalahkannya selagi label dan logo salafy tersebut mereka gunakan untuk menunjukkan bahwasanya konten yang ada di dalamnya terbebas dari syirik, bid’ah, maksiat, tahayul, ataupun khurofat. Namun yang saya takutkan adalah pengkultusan simbol, label, ataupun logo “salafy” yang mereka pasang, baik dalam bentuk stiker, email, blog, sekolah, majelis, ataupun perumahan.
Sudah merupakan tabiat manusia untuk berkelompok ataupun berkumpul dengan orang-orang yang serupa dengannya, baik itu dinisbahkan pada suku, kota asal, sekolah, manhaj, dan lain sebagainya. Semuanya itu bisa berdampak positif ataupun negatif, tergantung bagaimana menyikapi perkumpulan yang mereka buat. Suatu kelompok bisa berdampak negatif jika terdapat ke-ta’azuban (kefanatikan yang berlebihan), menganggap diri paling eksklusif, serta menjadikan kelompok tersebut sebagai standar kebenaran dan menjadi dasar bagi wala (loyalitas) dan bara’ (kebencian dan permusuhan). Jika suatu kelompok mempunyai ciri seperti ini, maka ketahuilah bahwa inilah hizbiyyah yang dicela oleh Allah dalam KitabNya
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” [Ar-Ruum: 31-32]
Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata: Mu’awiyah berkata kepadaku: ‘Apakah kamu berada di atas milah Ali? Maka aku berkata: “Tidak, dan aku juga tidak berada di atas millah Utsman. Aku berada di atas millah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [Ibanah Kubra, Ibnu Baththah, 1/355]
Lihatlah bagaimana Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma membenci hizbiyyah meskipun hizbiyyah tersebut disandarkan kepada salah seorang Khulafaur Rasyidin. Demikianlah, Salafush Shalih sangat membenci hizbiyyah kepada kelompok apa pun.
Intisab kepada Salaf bukan hizbiyyah karena Salafiyyin tidak pernah menjadikan wala’ dan bara kecuali kepad Islam, tidak kepada simbol-simbol tertentu, tetapi semata-mata kepada kitab dan Sunnah. Hal ini sangat jauh berbeda dengan kelompok-kelompok dan partai-partai yang memiliki nama-nama, julukan-julukan, metode-metode, dan simbol-simbol yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya, memberikan loyalitas kepada setiap orang yang loyal kepada kelompok mereka dan menisbahkan diri kepada kelompok mereka, di sisi lain mereka menjauhi bahkan memusuhi setiap orang-orang yang menyeisihi kelompok mereka dan tidak bernaung di bawah panji-panji mereka!

Demikian juga nisbah kepada Salaf tidak menjadikan ta’ashub (fanatik) kepada seseorang atau kelompok, karena Salafiyyun tidak menjadikan suri tauladan dalam segala sesuatu kecuali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adalah haq perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah-:
“Jika kelompok-kelompok (ahzab) dalam tubuh umat Islam menjadi banyak jumlahnya, maka janganlah engkau berafiliasi (intima’) kepada suatu kelompok pun. Pada zaman dahulu juga sudah terdapat berbagai macam kelompok, semisal Khawirij, Mu`tazilah, Jahmiyyah dan Rafidhah. Kemudian akhir-akhir ini muncul (kelompok) yang disebut Ikhwaniyyin (Ikhwani), Salafiyyun (Salafi), Tablighiyyun (Tablighi) dan yang semisalnya.
“Jadikanlah seluruh kelompok tersebut berada pada sisi kiri, dan menjadi keharusan bagimu untuk mengikuti im?m, yakni apa-apa yang ditunjukkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam melalui sabda beliau: “Menjadi keharusan bagi kalian untuk berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk.”
“Tidak diragukan bahwa merupakan kewajiban seluruh kaum muslimin untuk bermadzhab dengan madzhab Salaf, dan bukan berafiliasi (intima’) kepada kelompok (hizb) tertentu yang disebut Salafiyyin (Salafi). (Sekali lagi ditegaskan) bahwa menjadi kewajiban umat Islam untuk bermadzhab dengan madzhab Salaf yang shalih, dan bukan sikap sektarianisme (tahazzub) kepada apa yang dinamakan Salafiyyun (Salafi). Sebab, di sana ada jalan Salaf dan di sana ada pula kelompok (hizb) yang bernama Salafiyyun (Salafi). Dan yang dituntut (atas diri seorang muslim) adalah mengikuti/meneladani jalan Salaf.” [Sekian kutipan dari beliau dalam Syarh al-Arba`in an-Nawawiyyah, penjelasan hadits ke-28.]
Demikianlah wahai saudaraku, semoga engkau tidak menjadikan simbol-simbol, label, ataupun logo salafy sebagai bentuk ke-tahazzub-an kalian. Janganlah kalian mencaci maki hizbiyyun, namun di sisi lain kalian seperti mereka. Janganlah jadikan salafy hanya sebagai tulisan ataupun simbol belaka, karena “Abu salafy” dan “ihwan salafy” pun memakainya.
==================
Akhukum fillah,
Abu Hafsh Al Atsary
Artikel yang berhubungan:
Berlangganan Artikel
Dengan berlangganan, anda akan dikirim artikel terbaru blog ini secara lengkap. Masukkan alamat email anda, kemudian tekan tombol subscribe:





assalamualikum….. akh
sebagai muqadimah terhadap tulisan antum di atas ini sungguh menarik dan sangat bermanfaat. kepada pihak2 yang menisbatkan dirinya kepada salafy (termasuk ana sendiri loh. he3) apakah amalan kita ini sesuai dengan amalan para salaf yg senantiasa mengikuti sunnah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?
yang menjadi patokan seseorang di katakan salafy bukanlah namanya, namun amalannya. kalau kita mau berkunjung de daerah2 di indonesia ini, sungguh banyak bertebaran pesantren2 yang mengatasnamakan salafy,salafiyah,n salafiyyin namun amalan mereka tidak sesuai dengan namanya (salafy, salafiyah, salafiyyin) namun amalan mereka sesuai dengan asy ariyah maturidiyah de el el.
wahay saudaraku….
tidaklah kita hidup di dunia ini hanyalah ingin mendapatkan keridhoan Allah. siapa yang gak mengharapkan keridhoan Allah?
Allah telah menggambarkan dalam Kalamnya yg mulia bahwasanya allah telah meridhoi para sahabat muhammad rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,
Firman Allah:
???????? ????????
???????????????? ????????????? ???? ???????????????? ????????????? ??????????? ???????????? ????????????? ??????? ??????? ???????? ????????? ?????? ????????? ?????? ?????????? ??????? ????????? ????????????? ??????????? ??????? ?????????? ??????? ????????? ?????????? (?????)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At Taubah 9 : 100)
oleh karena itu kepada saudaraku yang ingin mendapatkan keridhoan Allah maka ikutilah mereka para Sahabat Muhammad rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Kita hidup bukan di di zaman rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kita juga bukan dari kalangan Muhajirin wal Anshar, namun kita masih berharap, berharap untuk menjadi golongan yg ketiga yg Allah Ta’baraka Wata’alah gambarkan dlm kalamnya di atas:
??????????? ???????????? ?????????????
dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,
inilah harapan kita semoga Allah menggolongkan kita kedalam kelompok ini. jadi sampai kapanpun kalau masih ada hamba Allah yg beriman yg mengiukuti Muhajirin wal Anshor sampai hari kiyamaat, insya Allah dia masuk kedalam keridhoan Allah.
Yaa Allah Masukanlah kami kedalam keridhoan mu, tidak ada keridhoan yg kami harapkan kecuali keridhoanmu,
ya Allah ma’afkan kesalahan dan kekhilafan kami.
Abu Nashir as Salafy
Surabaya 22 Nov 2008
?????? ????? ????????????? ??????????
komentar ana berikut ini tidak ada sangkut pautnya dengan tulisan antumn di atas, namun ana hanya menuliskan sedikit ayat al-Qur’an mengenai keutamaan pada Da’i
???????? ???? ?????? / ???????
?????? ???????? ???????? ??????? ?????? ????? ??????? ???????? ?????????? ??????? ???????? ???? ?????????????? (????)
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” (33)
Semoga Allah menjadikan ana dan antum termasuk kedalam orang-orang yang paling baik perkaannya.
wah berat nih artikelnya, baca lagi ahh
semoga kita dicukupkan dalam memahami agama ini sesuai apa yang diserukan para salaf (terdahulu).
ga usah neko-neko…
siip kang…
Seharusnya kita tidak menisbatkan pada kelompok manapun, meskipun ada sebutannya…
Meskipun saya mengikuti manhaj salaf, saya tidak mengklaim diri bahwa saya adalah salafy atau salafiyyin, karena ilmu saya masih sedikit. Saya menyebut diri saya cukup sebagai seorang Muslim Ahlussunnah Wal Jama’ah yang belajar dengan metode salaf.
Karena yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita mengikuti Islam yang diberikan tuntunannya oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Juga membela apabila Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut ditentang dan diperangi oleh mereka yang membencinya.
Wallahu a’lam.
bismillah…
Ana setuju bahwa seorang yang mengaku Salafy dilihat dari amalan, bukan cuma ucapan. Tapi, kayaknya kita perlu nih, baca buku Beda Salafi dengan Hizbi karya Ustadz Abdul Qadir. Di sana dijelaskan tentang penamaan “Salafy”.
Wallahu a’lam bish showwab
Semoga link berikut ini bermanfaat
Syaikh Al-Albani menerangkan…>>> http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=106
Barakallahu fiikum….
Subhanallah…ilmu Keren
Semoga Allah mudahkan ana dan temen2 untuk mampu mengaplikasikannya
Ehm….
Assalamu’alaikum
Aku hanya ingat, surat al Hajj ayat 78:
Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilihmu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam dien ini suatu kesempitan. (Ikutilah) millah bapakmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian MUSLIMIN (orang Islam) dari sebelum (Al Qur’an), dan dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik- baik Penolong.
Juga nasihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Thuubaa li man syagholahu ‘aibuhu ‘an ‘uyuubinnaas (bener pa gak sih kalimatnye…???)
Aku suka bacakan dua hal itu buat diriku ndiri. Hehe…..
?????? ????? ????? ???? ???????
Memang hal ini peru diluruskan dan membutuhkan pemahaman bahwa Salafy adalah sebuah manhaj (cara beragama) yang mengikuti jejak ulama as salaf as shalih.
Dan di sana ada konsekuensi-konsekuensinya yakni oerang yang bermanhaj Salaf hendaklah seluruhnya harus mengikuti Salaf bukan hanya akidahnya, ibadahnya, namun seluruhnya termasuk cara berdakwah dan kepemimpinan dalam agama.
Dan Salafy bukanlah milik sebuah kelompok tertentu sehingga orang yang bukan kelompoknya bukanlah Salafy, tidak seperti itu. Salaf yang diinginkan adalah milik generasi terdahulu yang shalih.
Saudaramu di Bekasi Timur
Abu Harun
assalamu’alaykum,
benar ya akhi, janganlah kita seperti ahli kitab Yahudi dan Nasrani yang suka mengklaim, namun klaim mereka tanpa bukti dan hujjah yang jelas. sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan dalam surat Al Baqarah ayat 111 (yang artinya):
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”
pengakuan hanyalah omong kosong dan kedustaan apabila realitanya/hakekatnya tidak seperti apa yang diklaim.
Dan Salafy bukan hanya sekedar pengakuan dan tulisan, meskipun ia menuliskan atau menemple gambar Salafy tidaklah hal itu lantas menjadikannya Salafy. Namun ia adalah amalan, ghiroh, dan praktik nyata dalam kehidupan. Salafy bukanlah manhaj campur aduk di sana senang di sini senang. Salafy bukanlah manhaj semangat tanpa ilmu. Salafy adalah pertengahan antara khawarij dengan Murji’ah, antara Haddadiyah dengan Sururiyah.
Dan Salafy hendaknya menjauh dari fitnah dan membebaskan diri darinya agar ia tidak terkena fitnah. Baik fitnah Syahwat maupun fitnah Syubuhat. Dan yang utama dari seorang Salafy adalah ia gemar menuntut ilmu syar’i agar ia bersemangat dan berusaha semaksimal mungkin menjadi seorang Salafy sejati yang diinginkan oleh generasi As Salaf As Shalih.
Akhukum fillah
Assalamualaykum..
Ana sependapat dengan akh Rismaka. Jadi apa yang ana sampaikan hanyalah bersifat tambahan..
Perbuatan sekelompok kaum yang menisbatkan dirinya pada salafy, tetapi perbuatannya justru menyelisihi manhaj salaf, tidaklah menafikan kebenaran akan penisbatan terhadap manhaj Salaf. Dan hendaklah tidak memunculkan phobia pada diri qt untuk mengatakan bahwa qt salafy (Insya Allah)..
Syaikh Utsaimin juga berkata bahwa-ana lupa teksnya- tidaklah ada seorang muslim hari ini yang berani mengatakan ‘lihatlah islam pada diri saya’.
Kenapa saudaraq? Karena jauhnya antara islam dengan kaum muslimin.
Tetapi wahai saudara2q, itupun tidak akan kita fahami bahwa qt akan takut mengatakan ‘ana muslim’, karena sikap qt, akhlaq qt, amal qt dan ibadah qt belum mencerminkan islam itu sendiri..
Ustadz Mubarak pernah menasehatkan (kata seorang ustadz disebuah ceramah), ketika masyarakat fobia dengan sebutan salafy, bukan berarti qt serta merta menjauhi kata2 ’salafy’, tetapi justru qt wujudkan penisbatan itu dalam sebuah amalan yang nyata dan tidak kontradiktif dengan penisbatan..
Wallahu A’lam..
hmmm… dalem… tapi insya Alloh kita bisa mengimplementasikan makna Salafy dengan benar…tidak hanya sekedar nama atau ngaku-ngaku saja tanpa bisa menjalankan konsekwensinya…
Salafy = mengikuti Al-Quran dan As-sunnah berdasar pemahaman Salafush Sholeh.
jangan sampe kita terjerumus seperti halnya orang yahudi yang mengaku mereka adalah keturunan Nabi Isroil (Ya’kub)…dan dengan bangganya mereka menamakan negara(?) mereka ISRAEL
padahal nabi Ya’kub sendiri berlepas diri dari orang -orang Yahudi…makanya tatkala kita akan mencaci orang-orang Yahudi, cacilah Yahudinya… jangan bawa nama Israel… karena itu adalah nama dari Nabi kita Ya’kub Alaihisallam.
mungkin ada baiknya kita merujuk ke kitab MULIA DENGAN MANHAJ SALAF karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Subhanalloh…. anggra belajar banyak nee….
Assalamu’alaikum, subhanalloh membaca bulbo al akh fillah.. rahimakalloh. afwan disini ana hanya ingin bertanya, membaca koment dari AlFaqir, ada sedikit pernyataan yang rancu di benak ana.. “Salafy adalah pertengahan antara khawarij dan murji’ah, antara haddadiyah dengan sururiyah”, maksudnya “pertengahan”? Bukankah “Salafy bukanlah di antara khawarij dan murji’ah, maupun di antara haddadiyah dan sururiyah”? Apakah “pertengahan di antara… dan…” disini dipahami sebagai konsep atau prinsip al-wasath menurut pemahaman salaful ummah? karena pernyataan di atas seakan mengacu bahwa salafy itu adalah pertengahan di antara firqoh… dan firqoh… Jadi ana sebagai pembaca rancu, salafy seolah diasumsikan diantara “keduanya”. afwan mohon penjelasannya dan pelurusannya agar tak ada salah asumsi bagi saya. Syukron katsir, mohon maaf bila ada salah kata… ‘alaikumussalam warohmatulloh wabarakatuh…
Semoga saja tidak ada perkumpulan orang yang mendirikan perumahan yang bertuliskan “perumahan salafy“
Ada tuh perumahan “salafy” di bandung :D… Nih:
http://kaahil.wordpress.com/perumahan-salafy/
Gimana tuh Pak?????
supriman’s last blog post..DUKUN PONARI DAN FENOMENA BATU PETIR
Kita doakan saja semoga hakikatnya seperti halnya namanya, yakni benar-benar menjadikannya sebagai salafy yang sejati
Terima kasih sudah berkenan mampir.
Ya setuju bukankah pengamalan jauh lebih baik dari sekedar pengakuan. Sejatinya salafi adalah abstrak, tidak bisa dikonkritkan dengan simbol-simbol tertentu.
Mungkin ada orang yang mungkin tidak mengenal istilah salafi tapi amalannya amalan salaf ashsholeh, ini jauh lebih baik ketimbang orang yang mengaku salafi tapi menjawab salam dari sesama muslim aja dipilah pilih.
wallahu a’lam
Abu Fauzan’s last blog post..Seharusnya Cinta…
Barakallahufiikum akhi.
Dalam berbagai sudut pemahaman, salafi (Ahlussunnah wal jama’ah)berada di antara pertengahan (al Wasath) tidak berlebihan dan tidak meremehkan.
Misalnya dalam perkara Hubungan Dosa dgn IMAN; Murjiah mengatakan iman ibarat bola besi yang tidak akan berubah meski manusia melakukan dosa besar, Khawarij mengatakan bila orang melakukan dosa besar maka dianggap kafir (hilang keimanannya), sedang menurut salaful ummah Iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan keta’atan dan berkurang karena kemaksiatan. Dan pelaku dosa besar selama tidak berbuat syirik insyaAllah diampuni.
Sebagaimana Islam sendiri adalah pertengahan diantara Yahudi dan Nasrani dalam banyak hal, misalnya masalah Nabi Isa ‘Alaihi salam, Nasrani menganggapnya sebagai Tuhan sedangkan Yahudi ingin membunuhnya.
“Demikianlah kami telah menjadikan kamu sebagai ummat yang wasath (adil dan pilihan) ..” [Al-Baqarah : 143]
Mudah-mudan dipahami.
Abu Fauzan’s last blog post..Seharusnya Cinta…