HANYA SEBUAH KOMENTAR

Submitted by rismaka on October 26, 2008 at 9:15 am Tags: , ,

Berawal dari iseng mengetik kata “rismaka” (tanpa tanda kutip) di google search engine mobile (via ponsel), kutemukan sesuatu yang menarik. Hampir di semua hasil pencarian ditemukan nama rismaka. Isinya yaa semua tentang situs ini, komentar-komentarku di tiap blog yang kukunjungi, hingga profil di forum ponsel.

Namun ada 2 (dua) hasil pencarian yang membuatku untuk segera mengkliknya. Ternyata eh ternyata namaku terpampang di blog yang itu tuuuhhh…., blog yang sangat terkenal yang sempat menghebohkan dunia dakwah islam (baca: salafy)

Blog apaan siy? Ya blog seperti itulaah.. :D

Namaku terpampang di situ. Bangga?? Ya enggak lah, cuma prihatin. Hanya gara-gara postingan komentarku di my twitter tentang seseorang yang (katanya) sudah ruju’ dan kembali lagi ke barisannya.

Enak donk terpampang di situ??? Enak jidat lo…!!

Agak miris juga siy, hanya karena gara-gara sebuah komentar yang merupakan isi hati yang senang mendengar saudaranya ruju’ (walau kita tak tahu hakikat sebenarnya), seolah-olah diri ini telah keluar dari manhaj salaf.

Tapi seneng kan? Seneng jidat lo!!! :D

———————————

rismaka, 26 October 2008.
Posted from my mobile

This entry was writen by rismaka, The Admin, A part time blogger, Biochemist, and Energy Consultant in PT. BKA. More profile on Contact.

8 Comments | Leave a respond | Back To Top

  • Abu Shafy Al-Fasitany says:
    using Unknown on Unknown

    Assalamualaikum..
    Ana lagi yang pertama ngasih komen. Sabar ya akh..
    Semua udah tahu kualitas blog itu, bahkan Ustadz Abdul Mu’thi sendiri dah menasehati mereka.. Tapi manusia itu dibagi dua, yang rendah hati dan menerima nasehat, serta yang sombong dan menolak nasehat..
    Maka ana mengulang tulisan akh Rismaka di post sebelumnya..’ana tidak ingin mengulangi kesalahan..’, yaitu jangan sampai blog akh Rismaka dkk seperti mereka ya..
    Oiya akh ucapan ini benar tidak, ‘Qt orang awam, tapi jangan selalu menuntut diperlakukan seperti orang awam (selalu minta toleransi ketika dinasehati). Dan qtpun bukan orang alim, jadi jangan menuntut nasehat qt selalu diikuti. Qt adalah orang awam yang menuntut ilmu, menerima ketika dinasehati dan sabar serta lembut dalam menasehati’

    —————————————-
    -rismaka-

    Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
    Alhamdulillah ada saudara ana yang mengingatkan. Jazakallah khoir ya akh, atas nasihat yang sangat berharga ini. Ana sebenernya “seneng” aja (dalam konotasi negatif) nama ana masuk “nominasi” :D . Toh yang tahu hakikat ana (benar atau tidaknya ana ikut dalam barisan hizbi) adalah Allah Ta’ala saja. Sedangkan mereka tidaklah pernah membelah dada ana. Walhasil tidaklah ada ucapan dari mereka terhadap ana melainkan hanya tuduhan belaka.

    “kita orang awam, tapi jangan selalu menuntut diperlakukan seperti orang awam (selalu minta toleransi ketika dinasihati), dan kitapun bukan orang alim, jadi jangan menuntut nasihat kita selalu diikuti. Kita adalah orang awam yang menuntut ilmu, menerima ketika dinasihati dan sabar serta lembut dalam menasihati”

    Hmm mengenai istilah-istilah yang antum tanyakan, ana tidak tahu benar/tidaknya ditinjau dari syari’at, Allahu a’lam. Namun kalau pendapat ana pribadi, bahwa tingkat ke-aliman dan ke-awaman seseorang itu berbeda-beda. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suatu nasihat itu bisa diterima atau bahkan ditolak dan dibantah, seperti: tingkat keilmuan, latar belakang keluarga (nyunnah/bid’ah), gender (akhwat biasanya lebih perasa), cara penyampaian, pasca penyampaian, kondisi keimanan, emosi, gengsi, de el el. Oleh karena itulah kita sebagai subjek penasihat harus mengerti betul kondisi objek yang kita nasihati.

    Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”. Ayat tersebut menjelaskan kepada kita agar berdakwah/menasihati kepada diri sendiri lalu terhadap keluarga, karena kita lah yang paling tahu kondisi keluarga kita. Hal yang sama tak dapat kita terapkan pada orang per orang yang mana kita hanya mengenal secara dzahir saja, tanpa pendekatan pribadi.

    Cara penyampaian nasihatpun turut mempengaruhi. Seperti contohnya seorang ustadz yang menasihati murid-muridnya di atas mimbar tidaklah sama dengan seseorang yang menasihati antar personal, apalagi dihadapan khalayak ramai.

    Kondisi pasca nasihat juga turut mempengaruhi. Jika seseorang kita nasihati banyak bla bla bla…, lantas setelah itu kita lari begitu saja seperti ditelan bumi, akan membuat objek yang diberi nasihat tidak ada respek kepada kita. Jadi intinya adalah pendekatan personal, serta komitment kita bahwa alasan kita menasihati orang tersebut karena kita benar-benar sayang sama dia.

    Dan yang diberi nasihat pun harus berbaik sangka, bahwa nasihat kita kepadanya dikarenakan kita tidak ridha melihat dia berada di atas sesuatu yang salah menurut pandangan kita. Sesuai dengan sabda nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, “Tidaklah sempurna keimanan salah seorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya hal-hal yang ia cintai bagi dirinya sendiri” [HR. Bukhari-Muslim]. Walhasil, jika kita benar-benar memahami makna hadits tersebut serta mengamalkan secara tepat, niscaya tak akan ada lagi sakit hati diantara sesama ikhwan.

    Adapun mengenai istilah selanjutnya, bahwa orang se-’alim nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pun banyak penentangnya. Begitu banyak kaum kufar yang menentang beliau shalallahu ‘alaihi wasallam, mencacinya, bahkan bermaksud membunuhnya, apalagi kita yang sangat jauh dari yang namanya ‘alim. Maka tepatlah sekiranya kalau kita jangan terlalu menuntut agar objek dakwah kita tak mau menerimanya.

    Mungkin itu saja pendapat ana yang ga nyambung hehehe. Seperti kata imam malik -rahimahullah- bahwa ucapan seseorang bisa diambil dan ditolak, kecuali sabda rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Jika ada pendapat ilmiah lain yang bisa mematahkannya, saya siap ruju’ kepada al haq.

    Btw, kok ga bikin blog aja siy? Biar ngeramaikan dakwah ahlussunnah gitu loh… ana rasa setiap orang mempunyai keunikan sendiri dalam menulis. Dan ana yakin antum mampu untuk itu. Salam buat keluarga di rumah :D Barakallahufiikum.

  • Abu Shafy Al-Fasitany says:
    using Unknown on Unknown

    Buat blog?? He3.. Gak dululah.., kan udah ada antum dan ikhwan2 lain.. Ana cuma melihat, mengambil manfaat (jazakumullahu khoir) dan kalau ada diantara antum yang khilaf, ana mencoba mengingatkan..

    Nah mungkin masalahnya, ketika ana memberi nasehat (yang jelas bukan antum), dipolemikkan, dibilang tidak hikmah, tidak bisa menulis dsb, apa mungkin karena ana gak punya blog ya? He3.. Sehingga mungkin ‘ke-Ahlussunnahan’ ana diragukan dan dianggap benar2 tidak tahu apa itu ‘hikmah’. Wallahu a’lam.. Yang jelas, seperti perkataan Imam Malik itu, ‘Setiap orang bisa ditolak dan diterima pendapatnya’, itu Imam Malik.., apalagi cuma nasehat seorang Thullabul Ilmi seperti ana..

    Oiya akh, bisa tahu nomer HP antum? Karena ana lebih suka bila ana meminta nasehat atau memberi masukan ke seseorang tidak dengan terbuka seperti ini..

    ————————————-
    -rismaka-
    Punya blog ada kenikmatan sendiri loh akh, misal kita bisa menambah ilmu, informasi, serta menjalin ukhuwah. Melewati blog jelek ini pulalah Allah Ta’ala mempertemukan kita dan ikhwan-ikhwan yang lain, betul ga :) . Dan manfaat lain dari blog juga kita bisa saling tolong menolong dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
    Menanggapi “curhat” antum (hehehe), itu bukanlah kesalahan antum. Polemik yang terjadi hanyalah kesalahan teknis saja. Ana tidak menyalahkan antum sebagai pemberi komentar (baca: nasihat), tidak pula menyalahkan akh Bayu yang mengutip nasihat antum, dan tak pula menyalahkan akh tedjo yang memberi izin kepada akh Bayu. Kesemuanya adalah proses ya akhi.
    Akh Bayu bermaksud mulia dengan mengutip komentar antum, yakni sebagai introspeksi diri yang mana akh bayu juga ingin agar orang lain juga melakukan introspeksi juga. Begitu juga dengan akh Tedjo yang mengizinkan dikutipnya komentar antum, karena mungkin menurut hemat beliau, hal tersebut mengandung maslahat.
    Adapun polemik yang dihasilkan, bisa ana katakan adalah ibroh. Mengapa? Dengan adanya polemik tersebut ana jadi sadar bahwa ana mulai tergelincir dalam sesuatu hal yang “berlebihan”. Banyak orang yang membaca postingan akh bayu di situ akhirnya “dipaksa” mikir, baik tentang yang namanya “hikmah”, “fatwa haram/tidak bercanda dg lawan jenis”, ataupun “kadar keilmuan diri”. Yang jelaz hal tersebut membuat orang akan kembali membuka-buka kitabnya (internetnya) kembali untuk dapat belajar lebih giat lagi.
    Ana kurang setuju dengan pernyataan antum (keahlussunnahan antum diragukan karena tidak mengenal hikmah). Karena yang berhak menghukumi keahlussunnahan seseorang adalah ulama. Tidak berhak seseorang menghukumi seseorang sebagai ahli bid’ah, hizbi, “temannya hizbi”, atau apalah yang semakna, hanya atas dasar qola wa qila, tanpa ilmu yang cukup. Ingatkah antum mengenai kisah Mu’adz bin Jabal radliallahu ‘anhu ketika mengimami manusia shalat isya? Beliau melakukannya sangat lama, hingga akhirnya ada orang yang keluar dari jama’ah. Terus ketika seorang sahabat hendak memukul arab badui ketika badui tersebut kencing di masjid? Kedua sahabat tersebut tidaklah menerapkan “hikmah”. Namun apakah nabi shalallahu ‘alaihi wasallam mengeluarkan mereka dari golongan beliau (ahlussunnah)? Tentu saja tidak. Kesemuanya butuh proses pembelajaran.
    Sekali lagi sabar akh… semuanya sudah mulai melupakan masalah itu kok. Marilah kita memulai hidup baru. Yakni hidup nan penuh hikmah.. :D (hohoho sok tua banget…)
    [No HP ana udah ana kirim via email. Tapi ahsan kalau lewat YM/email aja. ID YM ana: rismaka[et]yahoo[dot]com]

  • Abu Shafy Al-Fasitany says:
    using Unknown on Unknown

    Upz, maksudnya misalkan ana kurang faham tentang artikel2 yang akh Rismaka tulis, ana bisa bertanya panjang lebar lewat telefon atau sms.. Atau misalkan ada artikel yang ana salah memahaminya (yang kemungkinan besar hanya kesalahfahaman), ana bisa bertanya maksudnya.. He3 mohon dimaklumi..itu karena ilmu dan pemahaman ana yang masih sangat dangkal dan terbatas..

    ———————————-
    -rismaka-
    Begitu juga dengan ana, yang masih minim ilmu. Jangan berlebihan gitu donk akh.. :)

  • Abu Shafy Al-Fasitany says:
    using Unknown on Unknown

    Nasehat yang bagus akh.. Tidaklah pantas ana menolaknya. Na’am, masalah ‘keahlussunnahan’ ana tarik dan ana ralat.. Semoga Allah mengampuni ana atas kekhilafan ini..

  • using Unknown on Unknown

    Kok jadi chattingan sih?
    Saya baca2 aja :D

    -rismaka-
    Iya nich bro, jadi keasyikan chating malah :) .

  • rijaluna says:
    using Unknown on Unknown

    Assalamu’alaykum.
    Perkenalkan, ana Rijal. Tau gak, ana juga ada tuh namanya di postingan mereka itu. Awalnya sih agak bangga juga pernah jadi bahan beritanya mereka. Wuih. Bahkan saya sempet kepikiran bikin postingan “Hai, Aku Pernah Diliput Sama Blog Ini Loh”.
    Tapi belakngan saya pikir-pikir kalo blog-blog model gitu bermanfaat juga dikit-dikit. Asal yang salahnya mah jangan diikutin. Gitu aja.

    -rismaka-
    Wa ‘alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh.
    Salam kenal mas rijal..
    Iya betul, ana juga ga terlalu mempermasalahkan, karena sesuai dengan judul blog ini yakni apa yang terlintas dalam benak ana saja. Jadi ya isinya campur aduk lah..,asal posting aja.
    Na’am, ana setuju kalau blog tersebut bermanfaat juga. Jujur ana banyak mengambil manfaat dari mereka. Terlebih postingan tentang “forum murtadin” myquran.
    Syukron akh udah mampir.

  • abdul aziz says:
    using Unknown on Unknown

    ini akh ana kasih kodenya. kalo mau pake border tinggal ditambahin aja.

    no comment masalah di atas. tapi kalo boleh ana nasihatin. ttg salafy pake y ini jangan dibahas di blog yaa…akh. soalnya takut ada yg kena syubhat. salaf di IPB sudah pernah ada yg kena dan mereka meninggalkan salaf pake i (baca salafi). kebanyakan orang awam menilai kalo emang benar tuh salaf kenapa harus ada percekcokan antara keduanya yg sebetulnya setelah ana telusuri hanya terjadi pada thullabul’ilminya. syukron.

    -rismaka-
    Lho..mana kodenya?
    Yang terakhir ga maksud…, maksudnya yang pake i sama y apa ya?.

  • Abu Shafy Al-Fasitany says:
    using Unknown on Unknown

    He3.. Akh Rismaka qt ko chattingan ya..? Sebelumnya maaf ya akh Rismaka.. Ini semata2 karena ana mencintai antum karena Allah, Insya Allah.. Dan hanya masalah ‘taktik’ saja..

    Ana jelaskan, coment akh abdul Azis-lah jawabannya. Lho kok? Na’am.. Mengulang coment akh Abdul Azis, sebaiknya tidak dibahas diblog, tetapi ana tahu, memang inilah yang terjadi.. Dan ana merasa memang ‘kelewatan’ apa yang mereka lakukan.

    Maka, ana mencoba ‘mengalihkan perhatian’ justru kepada esensi yang ditulis oleh akh Rismaka, yaitu hikmah dalam menasehati. Ana ingin berkata dengan langsung, ‘Akh Rismaka, bukankah lebih baik tidak diekspos diblog..’. Ana yakin, akh Rismaka bisa memahaminya, tetapi sayangnya terkadang ada beberapa blogger yang justru kurang siap dan terkesan berkomentar ‘provokatif’ dengan coment2 semisal, ‘tetap semangat akh!’, ‘setuju!!!’, ‘benarlah antum bla bla bla..’ dan memposisikan ana dalam tempat yang kontra dengan akh Rismaka. Padahal ana sependapat dengan akh Rismaka.. Dan lebih parahnya, esensi yang akh Rismaka (penulis, penasehat dll) sampaikan menjadi kabur.. Seperti yang sudah2..
    Jadilah saudara yang baik, ingatkanlah kalau qt salah dan nasehatilah kami untuk bersabar DALAM KEBENARAN..

    -rismaka-
    Subhanallah…ana baru maksud hahaha (ana beneran ketawa sekarang).
    Na’am, kadang malah seseorang yang mendengar itu lebih faham dari yang menyampaikan. Jazakumullah khoiron kepada antum maupun akh abd aziz.

    Nah, begini kan lebih bagus akh… Wah ane makin cinta sama antum atas trik ini, masya Allah… :D

    Ya udah, dengan ini ana tutup sidang ini…eh salah, maksud ana komentar postingan ini dug…dug…dug…(ketok palu godam)