October 25, 2008 — . KU TAK INGIN MENJADI SALAFI…. ditulis oleh rismaka pada October 25, 2008. Berikut ulasan selengkapnya.
Terkadang paduan kata atau kalimat yang sama dapat membuat seorang pembaca ataupun pendengar salah paham dengan apa yang termaksud dalam tulisan maupun perkataan. Seperti contohnya kalimat: “Aku sangsi kalau sangsi itu dapat memberatkannya”. Bagi orang bule yang baru belajar bahasa Indonesia, mungkin kalimat tersebut akan sangat amat susah untuk dipahami, seolah-olah bahasa Indonesia adalah bahasa yang amat sukar untuk dipelajari. Namun tidak bagi anak SD yang sudah terdidik dari kecil dalam berbahasa Indonesia sesuai dengan EYD. Dia mungkin akan langsung meresapi makna kalimat itu.
Sesuai dengan analogi di atas, judul yang ditulis di atas juga bisa termasuk ke dalam kalimat yang mempunyai dua kata yang sama lafadznya (secara bahasa Indonesia), namun berbeda pula maknanya. Oleh karena itu bagi siapapun yang membacanya yang belum paham akan maknanya, saya mempersilahkan anda untuk melewatkan postingan ini. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya sebagai teman anda di blogsphere (yang biasanya kita gunakan untuk berbagi cerita dan canda), saya menekankan pada anda yang belum paham untuk tidak membacanya.
Sangat penting saya tekankan untuk masalah ini, karena yang akan saya bicarakan adalah hal yang sangat serius. Sejujurnya pula menulis postingan ini adalah hal yang sangat melelahkan, karena saya harus siap dengan tanggapan miring yang ada. Oleh karena itu sekali lagi janganlah mengingat apapun yang yang belum anda pahami di sini. [Dan saya tidak bertanggung jawab atas kesalahan pemahaman yang bisa ditimbulkan]
Kembali lagi ke topik bahasan. Mungkin akan terasa aneh jika ada seseorang yang mengaku bermanhaj salaf tapi tidak mau menjadi seorang salafi. Hal yang cukup beralasan jika ada orang berpendapat seperti itu. Tapi pendapat tetaplah pendapat. Selagi pendapat tersebut dapat dipatahkan dengan pendapat yang lain, kenapa tidak?
Bagi kebanyakan orang kata “salafi” mempunyai persepsi yang berbeda-beda tentang maknanya. Bayangan yang mungkin timbul pada sebagian orang tentang “salafi” adalah seorang ikhwan yang sangat ‘alim, hafal Al Qur’an, hafal hadits, jenggot panjang, celana ngatung, akwhatnya bercadar, dan lain sebagainya. Sebagian orang membayangkan “salafi” adalah suatu kelompok yang suka membid’ahkan, keras, kasar, tak pernah senyum, dan ahli debat. Sebagian yang lain pula mungkin atau bahkan tidak tahu apa itu “salafi”, nama orang kah (safei)? nama hewan kah (safi)? atau mungkin menyangka kalau salafi adalah jenis makanan (salad-i).
Saya katakan bahwa pandangan serta sangkaan mereka semua adalah benar adanya. Masyarakat awam mewakili sebagian besar masyarakat kita terkhusus di Indonesia. Bisa dikatakan bahwa sangkaan mereka tentang pemaknaan kata “salafi” adalah cerminan dari “salafi” itu sendiri. Dan itu haq adanya. Itulah realita yang harus kita terima.
Adapun penamaan “salafi” jika ditinjau dari makna yang benar adalah “Seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf”. Kata “salaf” sendiri berarti “yang terdahulu”.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada putrinya Fathimah: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik “As-Salaf” bagimu adalah Aku“.
Secara hakikat maknawi, bahwa salafi adalah penisbatan diri kepada generasi yang terdahulu, yakni generasi rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya ridwanullah ‘alaihim ‘ajmain. Atau bisa dikatakan bahwa salafi adalah Seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf.
Sudah merupakan KEWAJIBAN seorang muslim untuk mengikuti salaf. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [QS At-Taubah: 100].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Tidak tercela orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya, bahkan WAJIB untuk menerima hal tersebut menurut kesepakatan, karena tidaklah madzhab salaf itu kecuali benar” [Majmu' Fatawa 4/149].
Imam Al-’Auzai rahimahullahu berkata: “Bersabarlah diatas sunnah, berhentilah kemana (para salaf) berhenti, katakan dengan apa yang mereka katakan dan cegahlah dari apa yang mereka cegah. Telusurilah jejak salafush sholeh karena akan mencukupimu apa yang mencukupi mereka”. ["Asy-Syari'ah" oleh Al-Ajury" hal 58.]
Adapun penisbatan kepada selain salaf adalah merupakan kesesatan yang nyata. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannan dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali“. [An-Nisaa: 115].
Sungguh, suatu hujjah yang amat terang dan jelas, bahwasanya wajib untuk mengikuti cara beragama para salaf dalam aqidah dan manhaj. Saya sama sekali tidak menafikan penisbatan kepada “salafi”, tidak pula menafikan penamaan “salafi”. Namun sekali lagi yang berbicara adalah realita.
Jika anda ditanya “Apa agamamu?” Anda tentunya akan menjawab “Saya seorang muslim”. Lalu jika anda ditanya pula “Muslim yang mana?”, karena kaum muslimin akan (sudah) terpecah menjadi 73 golongan. Maka insya Allah anda akan menjawab “saya salafi”. Realita sekarang adalah, mungkin akan ada orang yang bertanya lebih lanjut lagi, “Salafi yang mana?” ………………………???????$^^*&^&$%^
Saya tak akan memihak kepada siapapun, karena ini merupakan suatu fitnah, dan saya tak ingin mengulangi kesalahan yang sama pula di sini. Saya lebih memilih diam. Terserah dan sah-sah saja kalau ada yang berpendapat kalau saya termasuk “setan yang bisu”. Silahkan saja berpendapat seperti itu, itu hak anda.
Sekarang yang kita lihat adalah penamaan “salafi” telah mengalami penyempitan makna, yang mana hakikatnya adalah penisbatan kepada salafush sholeh, sekarang telah berubah menjadi suatu manhaj tersendiri, dimana jika belum berafiliasi kepada kelompok tertentu maka seseorang belumlah menjadi “salafi”.
Tunggu, tunggu dulu kawan… Inilah realita yang harus kita telan pahit. Merupakan suatu musibah jika sekiranya kita enggan menerimanya, karena dengan begitu mata hati kita telah tertutup dengan semangat golongan (hizb). Ya, semangat bergolong-golongan dalam hal apapun, baik itu menuntut ilmu, pergaulan, pekerjaan, jual beli, bahkan blogging.
Mungkin akan ada yang berdalih bahwa kebenaran hanya di salah satu pihak. Namun bukan berarti pihak yang bersalah itu bisa dihukumi “bukan salafi” atau “salaf-i”. Atau bahkan seseorang yang tak tahu apa-apa, namun ia belajar pada orang yang salah tersebut ikut dihukumi “salaf-i”. Sangat menyedihkan memang…..
“Setiap anak adam lahir dalam keadaan fitrah. Orangtua-nya lah yang menjadikan ia yahudi, nashrani, dan majusi” [CMIIW pada matannya]
Hukum asal agama anak adam adalah islam… hingga orangtuanya lah yang menjadikan ia kafir.
Perlu diperhatikan bahwa saya tidak meng-generalisasi bahwa semua orang “salafi” seperti itu. Ini hanyalah sebagian (bisa dikatakan sebagian kecil, atau mungkin malah sebagian besar). Dan saya sangat setuju jika kesalahan setiap individu tidak bisa dinisbatkan kepada manhaj. Ya betul, itu adalah haq, bahwa setiap orang pasti mempunyai kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Lantas kenapa saya tetap mempersoalkan ini? Tanya kenapa???
Karena individu-individu tersebutlah yang telah merusak hakikat salafiyyah ini. Individu-individu yang salah itulah yang telah mengaburkan makna “salafi” yang sebenarnya. Akibatnya adalah kerusakan, bahwasanya tak sedikit orang yang malah lari dari dakwah nan mubarokah ini. Karena merekalah (individu-individu tsb) “salafi” di sisi lain telah menjadi golongan (hizb). Tidak usah dibantah, tanya hati nurani kalian masing-masing.
Oleh karena itu tak salah kalau saya tak ingin menjadi “salafi” dalam arti yang telah rusak. Namun hakikat salafi yang saya inginkan adalah tetap berpegang teguh kepada sunnah rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para khalifah yang mendapat petunjuk, pada semua sisi kehidupan.
Adalah haq perkataan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahullah- :
? ???? ??????? ?? ????? ??? ???? ??? ???? ??? ???? ????? ?? ???? ?????? ??? ??????? ????????? ???????? ????????? ?? ???? ?????? ???????? ??????? ????????? ??? ???? ???? ??? ??? ????? ?????? ??? ?????? ????? ??????? ??? ?? ???? ???? ????? – ??? ???? ???? ???? – ?? ????: [????? ????? ???? ??????? ????????].
??? ?? ?? ?????? ??? ???? ???????? ?? ???? ?????? ???? ????? ?? ???????? ??? ??? ???? ???? ????????.
??????? ?? ???? ????? ????????? ?????? ???? ????? ?????? ?? ?????? ??? ?? ???? (????????) ????? ???? ????? ????? ??? ???? (????????) ???????? ????? ?????.
“Jika kelompok-kelompok (ahzab) dalam tubuh umat Islam menjadi banyak jumlahnya, maka janganlah engkau berafiliasi (intima’) kepada suatu kelompok pun. Pada zaman dahulu juga sudah terdapat berbagai macam kelompok, semisal Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyyah dan Rafidhah. Kemudian akhir-akhir ini muncul (kelompok) yang disebut Ikhwaniyyin (Ikhwini), Salafiyyin (Salafi), Tablighiyyin (Tablighi) dan yang semisalnya.
“Jadikanlah seluruh kelompok tersebut berada pada sisi kiri, dan menjadi keharusan bagimu untuk mengikuti im?m, yakni apa-apa yang ditunjukkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam melalui sabda beliau,
?????????? ??????????? ????????? ???????????? ??????????????
“Menjadi keharusan bagi kalian untuk berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk.”
“Tidak diragukan bahwa merupakan kewajiban seluruh kaum muslimin untuk bermadzhab dengan madzhab Salaf, dan bukan berafiliasi (intima’) kepada kelompok (hizb) tertentu yang disebut Salafiyyin (Salafi). (Sekali lagi ditegaskan) bahwa menjadi kewajiban umat Islam untuk bermadzhab dengan madzhab Salaf yang shalih, dan bukan sikap sektarianisme (tahazzub) kepada apa yang dinamakan Salafiyyun (Salafi). Sebab, di sana ada jalan Salaf dan di sana ada pula kelompok (hizb) yang bernama Salafiyyun (Salafi). Dan yang dituntut (atas diri seorang muslim) adalah mengikuti/meneladani jalan Salaf.” [Sekian kutipan dari beliau dalam Syarh al-Arba`?n an-Nawawiyyah, penjelasan hadits ke-28.]
Ahh…seandainya…. Ku bisa menjadi salafi yang sejati…
[Komentar anda baik yang sejalan maupun yang bertolak belakang dengan masalah ini tak akan saya tanggapi. Tapi ingat, tetaplah menjaga adab sebagai seorang yang "mengaku" bermanhaj salaf. Jika anda salafi, maka buktikanlah....]